Feeds:
Posts
Comments

Bertugas di Maluku, mengharuskan saya untuk memahami budaya masyarakatnya. Tanpa pemahaman yang baik maka kerja dan tugas kita tidak akan berbuah maksimal. Justru bisa kontraproduktif dengan masyarakat itu sendiri.

Ada contoh kasus menarik. Waktu itu saya masih berada di Bula1 , sambil menunggu penempatan tugasku di pulau Kesui. Ketika bertakziyah ke rumah seorang pasien yang meninggal dunia setelah satu minggu di rawat di puskesmas Bula. Pasien itu seorang nenek jawa usia enam puluh tahunan. Dulu sewaktu mudanya ikut transmigrasi ke Kobisonta bersama suaminya. Sayalah yang merawatnya selama di puskesmas. Diagnosis sakitnya ialah Koma Hepatikum derajad 3. Koma adalah kondisi tubuh dimana tingkat kesadarannya sangat menurun sampai pada titik terendahnya sehingga ia tidak mampu lagi merespon seluruh rangsangan dari lingkungan di luar tubuhnya. Komanya sendiri pada nenek ini disebabkan karena adanya kerusakan pada jaringan hatinya (hepar). Hatinya sudah mengkerut sehingga sudah tidak bisa berfungsi lagi. Penyebabnya bisa karena virus hepatitis, bakteri atau pada peminum minuman keras (alkoholik). Kemungkinan terbesar penyebab pada nenek ini adalah serangan virus hepatitis yang sudah kronis. Padahal hati ini sangat fital bagi tubuh kita terutama untuk menetralisir toksik-toksik (racun) yang beredar di peredaran darah kita. Saat racun-racun itu tidak bisa dinetralisir maka racun-racub itu akan masuk lagi ke peredaran darah kita. Meracuni tubuh kita sendiri. Gejalanya bisa kita lihat dengan kulit tubuhnya yang menguning, putih matanya ikut menguning, tumpah-tumpah sampai gejala kesadarannya menurun karena racunnya sudah sampai ke otak. Itulah koma hepatikum.

“Bagaimana Dok, apakah sakit nenek bisa sembuh?” tanya anaknya penasaran.

“Bu, kami tidak bisa menjanjikan kesembuhan untuk nenek Ibu. Kami hanya bisa berusaha sekuat mungkin dengan peralatan dan obat-obat yang kami miliki di Bula. Namun jika ibu menanyakan kemungkinan kesembuhannya, berdasarkan pengalaman dan penelitian apabila ada pasien dengan sakit seperti ini, apabila ada 10 pasien yang dirawat maka dua diantaranya bisa sembuh dengan perawatan yang maksimal. Sedangkan delapan pasien lainnya akan terjadi penurunan kondisi tubuhnya sampai meninggal dunia.”

“Dokter, mudah-mudahan nenek kami bisa sembuh. Apapun obat yang diperlukan, kami akan mengusahakan membelinya.”

“Iya Bu. Bismillah. Kami akan berusaha sebaik mungkin. Mudah-mudahan nenek termasuk dari dua orang yang bisa sembuh diantara 10 lainnya. Apapun hasilnya, Allah lah yang menjadi penentu dalam takdirnya. Yang penting kita sudah berikhtiar sekuat kita. Saya harap ibu dan keluarga bisa bersabar dan selalu berdoa. Bantulah nenek dengan bacaan-bacaan doa dan qur’an untuk menenangkannya.”

“Iya Dok. Terimakasih banyak.”

Sudah saya coba untuk memberikan terapi yang maksimal. Satu minggu dirawat tidak ada kemajuan, hanya nafas yang tersengal dengan oksigen bantuan selalu terpasang. Hidupnya kini tergantung dengan infuse cairan dan asupan makanan saring lewat slang ke lambungnya. Akhirnya keluarga meminta pasien untuk di bawa pulang ke rumah. Prosedurnya adalah pulang paksa berdasarkan pernyataan tertulis ahli keluarga yang akan menanggung segala akibatnya, bukan lagi pihak tanggung jawab pihak puskesmas.

“Ndak apa-apa Dokter, kami sudah pasrah.”

Siang itu juga nenek jawa itu dibawa pulang ke rumahnya diantar ambulan puskesmas.

          “Ibu, kalaupun perlu bantuan saya. Ibu bisa menghubungi saya lewat HP saya. Ini nomernya.”, pesanku kepada anaknya sambil menuliskan nomor telepon saya di secarik kertas resep obat.

          Selang  satu hari nenek jawa pulang ke rumahnya, ajal telah menjemputnya. Saya sempat ditelepon oleh anaknya, meminta tolong untuk segera dating ke rumahnya. Nafas neneknya semakin tersengal lapornya. Saya segera meluncur dengan sepeda motor dinas puskesmas. Saat saampai ke rumahnya, tangisan dari dalam ruangan keras terdengar. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Pasien koma itu telah meningal.

Malam harinya, saya mengajak dr. Maschun, teman sejawat satu tim  dokter PTT SBT untuk bertakziyah ke rumah duka. Saat kita masuk ke dalam ruang tamunya ternyata sedang diadakan acara tahlilan. Karena sudah terlanjur masuk dan untuk menghormati tuan rumah kami segera menempatkan diri mengikuti tahlil.

Masya Allah, ternyata acara tahlil di sini masih tercampuri dengan unsur kesyirikan. Padahal kegiatan tahlilan itu sendiri sudah termasuk masalah yang kontroversial secara fikih. Apalagi jika dihubungkan dengan hitungan hari setelah meningal almarhum. Sama sekali tidak ada dasarnya dalam agama. Setahu saya ini kan warisan budaya hindu kuno. Islam itu mudah. Justru doa yang paling afdhol bagi almarhum adalah do’a anak-anaknya yang sholeh. Bacaan qur’an anak-anaknya pun insya Allah bisa menjadi hadiah bagi almarhum.

Tapi kenyataan yang terjadi di masyarakat ya begini ini. Mencampur adukan agama dan tradisi tanpa dasar yang jelas. Inilah yang paling berbahaya. Bukankah semua amalan sebanyak apapun tidak akan diterima Allah jika tidak sesuai dengan cara yang dicontohkan Rasulullah dan dengan niat yang ikhlas. Mengapa kita harus mempersulit diri dengan membuat berbagai macam hidangan yang diada-adakan untuk menjamu dalam setiap acara tahlilan. Bagikan saja ke tetangga-tetangga kita yang kelaparan dan kekurangan, tidak usah menunggu-nunggu kalau ada acara tahlilan saja. Itu kalau mereka yang miskin diundang, kalau tidak? Kasihan kan. Apalagi kalau memang kita bukan orang yang mampu harus memaksakan diri menyediakan hidangan standar sampai berhutang kesana-kemari. Bukankah tanpa hidangan makanan pun, Allah pasti akan mendengar doa hambanya. Pikiran-pikiran inilah yang terbayang dalam anganku saat semua undangan kompak mengucapkan lafal-lafal tahlil dengan penuh semangat.

“Laa Ilaha illa Allah!……”

Di depan pak Imam tersanding dupa dengan bakaran kemenyan dan segelas air putih (untuk arwah almarhumah barangkali). Berkali-kali saat tahlil berlangsung, serbuk kemenyan putih ditaburkan ke dalam dupa itu. Asap pun bertambah  mengepul. Asapnya menari-nari memenuhi ruangan mencari celah untuk keluar. “Ya Allah, cara apa lagi ini?” Apalagi saat asap tebal itu berkali-kali menerpa wajah saya. Sunguh tersiksa. Saya mencoba meniup-niup kecil untuk mengusir asap nakal itu. Bah, buh, buh,… Bukannya khusyuk tetapi justru akan menambah polusi udara. Malah bisa meracuni paru kita. Apakah Rasulullah pernah mengajarkan ini? Saya yakin tidak! Saya kira dulu orang tua kita membakar kemenyan untuk mengharumkan ruangan, bukan untuk membantu mengantarkan doa-doa kita ke langit. Nah sekarang kan sudah jaman moderen, kita bisa menggunakan parfum untuk mengharumkan ruangan sesuai selera kita. Dan yang pasti tidak akan pernah ada parfum aroma bakaran kemenyan buatan pabrik. Tidak bakalan laku Bung!

Di samping saya, duduk dr. Maschun. Ia seorang ikhwah2  cerdas yang berasal dari keluarga muhammadiyah tulen. Pastinya tidak terbiasa dengan acara tahlil seperti ini. Ia duduk tenang sambil menunduk dalam. Tidak satupun lafal-lafal tahlil ia ucapkan. Saat berdoapun tangannya pun tak diangkatnya. Bibirnya berkomat-kamit, mungkin hanya istighfar yang berkali-kali diucapkannya.

Setelah tahlil selesai, tiba-tiba pak imam kampung yang tadi memimpin acara tahlil angkat bicara. Dengan nada tinggi dan muka tegang menghardik beberapa orang diantara kami. Bahasa yang dipakai bahasa daerah asli pulau Seram, kami yang dari jawa tidak paham. Meski begitu ada beberapa penggal kalimat yang aku tangkap saat pak imam menyebut-nyebut “tiga orang kristen ikut tahlil!”. Aku semakin tidak paham, dengan santainya saya tetap meminum teh panas yang dihidangkan. “Waduh, jangan-jangan yang dimaksud pak imam kampong itu adalah saya dan dr. Maschun”, batinku. Buktinya saat meluapkan amarahnya matanya selalu memandang ke arah saya, dr. Maschun dan seorang lagi undangan yang hadir. Nada suara pak imam semakin keras menggelegar! Saya dan dr. Maschun cuma saling bertatap pandang. Ada apa ini sebenarnya?

          Saya mengira, pak imam marah karena tadi dr. Maschun dan saya tidak mengikuti tahlil dengan baik. Tidak melafalkan dan tidak ikut berdoa bersama dengan suara yang keras dan kompak! Marah pak imam yang panjang, bla bla bla, mulai reda. Seorang jawa yang paling tua kemudian meminta maaf kepada pak imam kemudian menerjemahkan untuk kami permasalahan yang menjadi hati pak imam tidak berkenan. Ternyata hanya gara-gara kami : saya, dr. Maschun dan seorang jawa tidak mengenakan ‘KOPIAH’ di kepala saat acara tahlil berlangsung. Masya Allah, begitu sempitnya pemikiran seperti ini. Hanya gara-gara tidak memakai kopiah sudah dikatakan sebagai orang kristen dan kafir! Na’udzubillah.

          Dr. Maschun segera angkat bicara, maklum dia ini jebolan aktivis mahasiswa. Sewaktu kuliah dia adalah ketua Jama’ah Salahuddin Gajah Mada.

“Di Jawa tidak seperti ini Pak Imam. Kami orang yang baru datang di Bula. Kami minta maaf.”,sambil melirik ke arah saya.

Saya hanya tersenyum menghabiskan teh panas yang masih tersisa. Sebenarnya dr. Maschhun hendak melanjutkan perdebatannya namun saya memberi isyarat untuk segera pulang. Saya rasa debat saat suasana seperti kurang tepat. Kami segera pamit kepada pak imam dan tuan rumah. Ternyata tuan masih mau menahan kita disini umtuk mengikuti acara khataman Al Qur’an untuk dikirimkan bacaannya ke almarhumah. Wah, kalau ikut acara ini bisa tersiksa lagi kita batinku.

          “Iya Pak Imam, kami minta maaf juga. Sekarang kami mau minta pamit untuk pulang. Kami harus segera pulang ke puskesmas karena ada pasien gawat yang sedang kami rawat.”, segera saya menegaskan.

          Kami pulang. Sepanjang perjalanan kami saling cerita kejadian lucu saat kejadian tahlil tadi berlangsung. Inilah fenomena Islam di Bula, orang meradang ketika kita tidak memakai kopiah di kepala. Bahkan sampai dikatakan sebagai orang kafir segala. Padahal di luar sana saat masjid mengu,andangkan adzan, orang-orang berkeliaran dan bersibuk-sibuk diri tidak mau mengerjakan sholat. Bukannya orang-orang seperti inilah yang diingatkan oleh Rasulullah melalui haditsnya bahwa pemisah antara orang beriman dan kafir adalah sholat. Jadi yang digolongkan sebagai orang kafir adalah orang yang tidak mau mengerjakan sholat, bukan orang yang yang tidak memakai kopiah! PR besar bagi kita semua untuk memahamkan Islam secara bersih dan benar kepada masyarakat.

          Disinilah perlunya kita memahami tradisi di masyarakat. Ini baru salah satu permasalahan yang kita jumpai di permukaan. Masih banyak tradisi-tradisi masyarakat yang bertentangan dengan ajaran Islam sesungghnya namun tumbuh dengan suburnya. Fenomena syirik, bid’ah dan takhayul inilah yang masih banyak merebak di masyarakat. Masalah ini diperberat dengan semangat ‘tholabul ‘ilmi’ generasi mudanya yang rendah. Klop sudah. Menjadi lingkaran setan yang repot dicari solusinya.

          Saya jadi teringat dengan penyakit yang diderita nenek jawa kemarin. Ada pelajaran yang bisa kita ambil dari sakitnya. Jangan-jangan umat kita sedang menderita sakit koma hepatikum. Iya, umat sekarang memang sedang terjangkit virus-virus kejahiliyahan. Virus syirik, bid’ah dan takhayul akhir-akhir ini gencar menyerang masyarakat. Saya khawatir jika penyakit umat ini tidak segera diobati maka nantinya umat ini akan menderita penyakit hati yang kronis. Mata hatinya mati tidak bisa menangkap kebenaran hakiki. Jatuh dalam jurang kehancuran. Coba ingat isi berita-berita di Koran sore kemarin, bukankah kita Negara terkorup di dunia nomer tiga. Negara yang paling subur dijadikan sasaran narkoba. Ditambah prestasi nomer dua dari pornografi sedunia! Umat ini sedang sakit hatinya dan mungkin akan mati karena koma hepatikum menyerangnya. Na’udzubillah min dzalik.

          Memahami tradisi memang sangat penting agar langkah-langkah kita tidak kontra produktif dengan masyarakat. Namun tatkala tradisi-tradisi itu berbau syirik, bid’ah dan takhayul, apakah masih tetap kita toleransi?

          Saya tidak perlu menjawabnya disini. Saya hanya menginginkan semakin banyak da’I dan murabbi yang dikirim di bumi Maluku ini. Hanya dengan da’I dan murabbi-murabbi inilah kita bisa mengatasi semua permasalahan pelik itu. Tidak sekedar menjadi polemic yang justru hanya menimbulkan kontraproduktif baru. Dengan da’I dan murabbi, pelan tapi pasti semua tradisi-tradisi yang tidak baik akan diluruskan melalui generasi-generasi yang terbina dengan sendirinya. Dan perlu di ingat, selama tradisi-tradisi itu masih tumbuh subur maka pembangunan apapun yang dilakukan di sini tidak akan barokah. Maka : lahirnya satu generasi baru itu adalah sebuah kewajiban dan keniscayaan. Generasi tarbiyah yang mampu menyelamatkannya! (Kesui, 25 Mei 2006)

Robohnya Surau Kami

Ba’da maghrib di Tamheru. Setelah kucoba melafalkan ma’tsurat penjagaan di pojok masjid tua kampung ini, aku mulai merenung. Mencoba membaca fenomena yang terjadi di kampung ini. Masjid ini cukup besar gumamku, aku rasa bisa menampung semua penduduknya untuk shalat jama’ah tiap lima waktu. Tapi ternyata besarnya masjid tidak diimbangi semangat masyarakatnya untuk memakmurkannya. Pak imam masjid ini pernah mencceritakan padaku tentang sejarah masjidnya. Dan sore ini bayanganku menerawang ke lima belas tahun silam. Dulu sewaktu proyek masjid ini belum masuk di Tamheru, tokoh-tokoh masyarakatnya gethol sekali memperjuangkannya. “Ini hak kami, bagaimana kami akan beribadah dengan nyaman kalau masjid yang kita miliki tidak memadai.” Setelah proyek itu masuk, masyarakat berbondong-bondong ikut membantu pembangunannya. Lelaki-lelaki kuat kampung ini bahu-membahu menyiapkan semua material pembangunan. Ada yang mengangkut pasir dari pantai yang jaraknya seratusan meter di samping lokasi masjid. Ada yang memotong kayu-kayu besar di gunung kemudian mengergajinya. Anak-anak ikut mangangkat batu-batu karang untuk membuat ponadasi masjidnya. Sedangkan ibu-ibu dan remaja putrinya juga tidak mau ketinggalan. Mereka memasakkan rangsum buat pekerja. Menuangkan air teh dan kopi. Lalu ubi rebus dan pisang goreng menyusul di setiap jeda istirahat para pekerja hebat itu. Masya Allah, benar-benar mengagumkan semangat mereka untuk segera memiliki masjid yang telah lama dirindukan. Alhamdulillah tak sampai satu bulan kampung ini telah memiliki sebuah masjid yang cukup megah. Masjid cantik dan bersih di tengah kampung yang damai. Subhanallah, fabiayyi alaa’i robbikumaa tukadzibaan!1 Maka adzan selalu mengumandang di kampung ini. Berbondong-bondong pendudukanya memasuki masjid ini. Menggelar sajadah, mendirikan shalat berjama’ah, berdzikir bersama setelahnya kemudian diakhiri dengan bersalam-salaman saat mereka selesai untuk kembali ke rumah masing-masing.  Sorenya anak-anak kecil kampung ini berangkat mengaji di sini. Duduk rapi melingkari bapak nyira, melafalkan ayat-ayat suci bergantian. Senandung shalawat kerap menghiasi pengajian itu. Bapak Nyira 2 yang sabar,…anak-anak yang sholeh,….siapa yang tak trenyuh melihat pemandangan khusyuk ini.

Ah, tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku. Astaghfirullah bisikku. Bayang-bayang keramaian masjid ini pun hilang segera. Sayang, mengapa ini hanya lamunanku. Mengapa keramaian itu tak berulang kembali sekarang. Adakah yang salah dengan masjid tua ini. Apakah masyarakat telah bosan dengan cat dindingnya yang tak lagi putih bersih. Sekarang dinding masjid penuh lobang, warna catnya telah memudar, coklat kehijau-hijauan. Ada lumut yang tumbuh liar di pojok-pojoknya. Inikah yang membuat mereka enggan mendatangi masjidnya? Apa masyarkat juga telah bosan dengan desain bangunannya? Desain yang sangat sederhan memang, kalah jauh dengan bangunan-bangunan bos-bos cina di kampung ini yang bergaya eropa. Aku terus mencoba menguak sebab-sebab sepinya masjid ini,…. Aha, tukasku. Aku teringat dengan tifa butut yang mengantung di pojok beranda masjid. Bukankah setiap akan mengumandangkan adzan, pak Modzin selalu memulainya dengan memukul tifa itu? Iya, suaranya yang tak nyaring lagi, blep-blep-blep thek-thek-thek blep! Alunan musik aneh yang sangat sumabang. Oh, pantesan anak-anak muda kampung ini tak mau ke masjid, init ho penyebabnya. Panggialan sholatnya yang kalah jauh dengan alunan suara emasnya trio macan, Broery pesolima, ungu, ada band dan musik-musik demam goyang3 lainnya. Bukankah setiap listrik mulai menyala saat jam enam sore, radio-radio dan tip recorder di kampung ini seakan saling berlomba. Jedag-jedug-jadag nada-nada musik dangdut bercampur dengan pop ambon dan bugisnya. Coba bandingkan dengan bunyi tifanya pak Modzin yang Cuma blep-blep-blep. Pasti kalahlah!

Ah, kasihan masjid ini. Habis manis sepah dibuang. Sekarang tidak lagi memiliki penggemar -penggemar sebanyak jaman dulu. Padahal kalau ada pesta melantai 4 di kampung ini pastilah seluruh pemuda-pemudinya tumpah ruah. Bergoyang dangdut, cha-cha, ngebor, gergaji dan lainnya. Pernah aku diundang pesta juga, waktu itu aku tak mau joged tetapi tetap saja ditarik-tarik tuan rumah. Duh malunya, wajahku memerah seketika. Lain dengan mereka, asyik masyuk bergoyang ria. Bergoyang sampai nanti subuh tiba bahkan ada yang sampai minyak solar genset listriknya habis. Tancap terus Bung!

Sekarang aku cuma melihat pak imam yang sudah renta setia mendatangai masjid yang telah sunyi. Jalannya yang tak lagi tegap karena hernia yang  membengkak di pangkal pahanya. Berjalan tertatih-tatih tak ada pamor lagi. Paling Cuma pak Modzin dan istrinya yang setia menemaninya di masjid itu. ” Ah, biar saja mereka, toh surga itu untuk yang mau dekat saja dengan masjid”, jawabnya enteng seolah tak ada beban dibenaknya untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Wadhuh,…apa iya Antua 5 telah lupa dengan hafalan surat Al ‘Asyr-nya? Seingatku dari nasihan ustadz Hadi, guru ngaji sewaktu SMA-ku dulu. Keimanan kita belum sempurna ketika belum sling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. Tidak cukup dengan kesalehan pribadi, tetapi bagaimana menularkan kesalehan itu ke segenap masyarakatnya. Toh, surga bukan kapling pribadi kan? Oh, pantas saja anak-anak mereka sendiri pun tetap saja setia melototi sinetron episode cinta murahan di televisi digitec 30 inchi tetangganya!

Fenomena yang ganjil tapi sudah membiasa di masyarakat. Inikah yang dinamakan tanda-tanda kiamat sudah dekat. Aku tak tahu pasti yang jelas kebaikan-kebaikan sekarang sulit kita temukan di masyarakat. Sedangkan kejahatan, kebebasan tiada batas dan ketidakjujuran tumbuh subur di masyarakat. Ah, aku bertambah pusing memikirkannya. Sering aku keliling kampung ini untuk mencari seseorang yang bisa nyambung dengan pikiranku. Aku butuh teman. Tempat berbagi masalah, berpikir bareng dan mencari solusi yang bisa diterapkan di sini. Bagai nabi Musa yang membutuhkan nabi Harun untuk membantu perjuangannya. Aku bukan nabi yang memiliki mukjizat. Seorang nabi saja membutuhkan teman berbagi apalagi aku! Aku pun bukan seorang ustadz. Aku seorang dokter muda PTT yang bertugas di sini. Tapi, bukankah seorang dokter  memiliki kemampuan untuk mendiagnosis penyakit dengan metode tertentu. Lalu bagaimana jika metode itu diterapkan untuk mendiagnosis penyakit masyarakat kemudian menerapinya? Betul, namun aku tetap membutuhkan teman itu untuk bersama-sama saling menguatkan. Apalagi pemikiran masyarakat kampong ini sangat kolot dan sulit berubah.  

Satu bulan berlalu, akhiranya aku dapatkan seseorang yang aku cari. Lelaki setengah baya yang tinggal di pojok kampong. Sudah sepuluh tahun dia menetap di sini, tetapi baru kali aku baru bertemu dengannya. Rupanya musim panen ikan sebulan ini dia manfaatkan sebaik-baiknya menjaring ikan momar dan memancing ikan cakalang ekor kuning. Oh pantesan aku tak pernah menemuinya di masjid saat sholat maghrib dan isya.

Subhanallah, luar biasa kepribadiannya. Lelaki yang sederhana, ramah dan murah hati. Pertama kali aku lewat depan rumahnya, dialah yang lebih dulu ucapkan salam padaku. Berlari kecil dengan senyum hangat menjemputku. “Inikah mas Dokter itu”, sapanya ramah. “Mari mampir di gubug beta 6.” Lalu aku masuk di ruang tamunya yang sangat sederhana. Hanya berukuran 2 x 2 meter. Tak ada perabotan apapun di dalmnya, hanya hamparan tikar tua menutupi tiga perempat ruangnya.  “Beta tahu dari orang-orang kampong tentang mas Dokter yang baru tugas di pulau ini. Katanya perawakannya kecil, wajahnya cahaya, murah senyum dan giginya itu lho putih bersih. Mirip senyum pepsoden kata masyarakat kampung ini, Ha ha”, tukasnya menjelaskan padaku. “Makanya tadi beta langsung panggil mas Dokter”, susulnya. Aku hanya tersenyum. Lelaki yang hangat batinku. Apalagi saat dia memanggil istrinya dengan sapaan ‘sayang’ untuk segera buatkan minuman untuk kami. Lelaki yang romantis batinku lagi. Sesaat kamudian seorang perempuan berkerudung rapi menghidangkan secangkir teh dan sepiring kore untuk kami. “silahkan Mas, dicicipi teh dan korenya. Kebetulan tadi kami baru menumbuk sagu dan kenari untuk buat kue ini”, katanya renyah.

Kami pun melanjutkan dengan diskusi yang gayeng. Tentang keluarga, kesehatan dan masalah-masalah di kampung ini. Memang, lelaki ini yang aku cari. Wawasannya cukup luas, terbuka dan yang terpenting adalah memiliki sense ‘agent of chanc’ di masyarakat.dia ternyata seorang guru bantu di SD dan SMP LKMD kampung ini.   “Bagamana kalo katong mulai membangunkan masyarakat yang sedang tidur ini?”,tanyaku. “Beta sepakat, tapi bukanya beta menyombongkan diri. Sudah sepulu tahun beta berusaha berdakwah di desa ini namun hasilnya sama saja. Masyarakat lebih mencintai dunia daripada untuk akhiratnya. Beta hamper putus asa.”

“Pak Guru mungkin kita butuh metode yang baru. Beta lihat fungsi masjid di sini belum optimal. Masyarakat semakin hari bertambah asing dengan masjidnya. Padahal orang yang beriman dengan masjidnya ibarat ikan dengan kolamnya. Kalau katong baca shiroh perjuangan nabi maka basis pertama yang dibangun beliau adalah masjid. Bukankah di Qur’an Allah telah tegaskan bahwa hanya orang-orang berimanlah yang memakmurkan masjidnya!”, sambungku.

“Iya Pak Dok, beta sudah berusaha mengajak mereka ke masjid. Tetapi mereka tetap saja tak pernah berubah!”

Lalu aku menceritakan sebuah kisah tentang keberhasilan dakwah melalui masjid di lingkungan yang masyarakatnya sangat asing dengan nilai-nilai agama. Satu kisah dari Semarang tempat saya dulu menimba ilmu di fakultas kedokteran. Seorang habib di sana pernah bercerita kepada saya tentang pengalamannya dalam berdakwah kepada masyarakat. Habib tersebut tinggal di perkampungan dekat pelabuhan. Sebuah perkampungan yang kumuh, crowded dan sangat terkenal dengan gali-galinya sehingga tingkat kriminalitasnya menjadi sangat tinggi. Perjudian, minum-minuman keras dan pelacuran menjadi hal yang biasa di kampong itu. Lalu datanglah seorang habib yang telah tua untuk tinggal di tempat tersebut.

Mulailah proyek dakwahnya dirancang. Setelah melihat sendiri kebrobrokan di kampungnya habib itu menyimpulkan bahwa masyarakat sedang sakit hatinya. Hatinya telah mengeras sehingga sulit tersentuh dengan nilai-nilai kebenaran. Setelah mengetahui diagnosisnya lalu yang terpenting adalah mencari solusinya. Kira-kira langkah apa yang tepat untuk menerapi masyarakat yang sudah rusak begini?

Teringatlah habib itu dengan satu ayat Qur’an yang memberikan solusi untuk metode dakwahnya.

“Dan kami turunkan Al Qur’an (sesuatu) yang menjadi obat dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (QS. Al Isra’ 82)

Tapi hati masyarakat telah sakit kronis dan sekarang telah mengeras. Masih bisakah masyarakat ini bisa di ajak kembali menuju jalan yang lurus. Bukankah dakwah tidak pernah mengenal putus asa. Batu saja yang begitu kerasnya bisa berlubang karena tetesan air yang terus-menerus. Apalagi hati manusia yang memiliki dua bakat sekaligus, bakat menjadi takwa ataupun bakat menjadi durhaka. Kalau memang mereka setiap harinya hanya mendengar perkataan-perkataan yang buruk pastilah perbuatannya pun semakin buruk. Kalau setiap hari mereka mendengar hal-hal yang baik, lama-lama pasti hati akan melembut juga.  Dan Al Qur’an telah menginformasikannya tentang tabiat jiwa manusia tentang hal ini.  “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, Karena takut kepada Allah. dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Baqoroh 74)

Mulailah proyek dakwah sang habib berjalan. Masjid di tengah kampung mulai dia bersihkan bersama anak-anak kampung yang diajaknya. Di pasanglah sebuah sound sistem tuanya di masjid tersebut. Dan di setiap waktu menjelang sholat 5 waktu diputarlah kaset murottal dan tarhimnya itu. Masya Allah, sebuah metode yang sederhana namun tetap cerdas dan mengena.

Awalnya orang-orang memang merasa terganggu (biasa syaithon selalu menjauhkan orang dari hidayah), namun lambat laun alunan syahdu tilawah  qur’an dan lantunan merdu sholawat telah menjadi kerinduan tersendiri di hati masyarakat.

Satu tahun telah berlalu. Mungkin orang-orang akan terheran-heran melihat situasi kampung itu. Di manakah warung remang-remang yang dulu ramai tempat orang-orang berjudi, minum-minuman keras dan main perempuan nakal itu? Dan sekarang masjid itu telah ramai dengan jama’ahnya di setiap waktu sholatnya. Ada pengajian rutin untuk masyarakat dan anak-anaknya. Kemudian gali-gali itu juga sudah tidak memalak lagi, meski bekas tato-tato masih menempel di kulitnya. Kini mereka telah menjadi karyawan habib tua itu di perusahaan meubel dan bengkel motornya. Subhanallah, masyarakat yang telah disinari hidayah. Mudah-mudahan barokah selalu menyertainya,….

 “Beta tertarik dengan kisah tersebut Pak Dok. Subhanallah, mudah-mudahan bisa katong terapkan di sini.”

“Iya Pak Guru. Beta kebetulan ada sedikit dana untuk membeli sound sistem sederhana untuk masjid katong ini.”

Sebulan kemudian lantunan merdu qur’an nan syahdu telah menjadi jadwal khusus di masjid kampong ini. Mudah-mudahan hati masyarakat bisa menjadi lembut dan rindu dengan kebenaran. Sekeras apapun hati mereka. Lha wong gunung saja bisa hancur berkeping-keping saat mendengarkan ayat Al Qur’an apalagi seonggok hati manusia yang tipis itu,….

(Kesui, 25 Februari 2007)

Amputasi Pedis

Ahad sore ketika saya dan dr. Maschun sedang bersiap untuk shalat maghrib jama’ah di masjid Kataloka. Tiba-tiba dari arah pantai datang seseorang tergopoh-gopoh mengejar kita dengan nafas terengal-sengal. “Pak dok, katong minta tolong jua, ada anak kecil tergilis truk di kakinya.” Dr. Maschun bertanya, ” di mana sekarang anaknya?” “Ada di katinting Pak Dok”, tukas bapak itu. “Baik bawa ke puskes sekarang”.

Sejurus kemudian datanglah serombongan pemuda mengusung seorang anak kecil. Usianya sekitar 10 tahunan. Wajahnya meringis menahan sakit. Dari telapak kaki kanannya terlihat aliran darah segar yang terus menetes. Hampir dua pertiga kulit telapak kakinya terkelupas. Separo tulang punggung kakinya hancur. Keempat ujung jarinya remuk. Tinggal onggokan tulang yang tak karuan dengan jari kelingking masih tersisa sendirian. Rembasan darah terus saja membasahi kain yang menyangganya. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

“Gus, ini cito!”, gumam dr. Maschun. “Iya, saya segera siapkan minor surgery, Pak Maschun lihat KU nya dulu ya”. Tampak di ruangan puskesmas semakin dibanjiri massa yang ingin melihat kondisi si anak malang itu. Berita telah tersebar seantero pulau Gorom. Memang masyarakat di sini memiliki solidaritas yang sangat tinggi. Tapi kalo hanya datang untuk menonton, ini yang bikin kita kewalahan tho ya! ” Maaf Bapak-bapak, untuk menjaga kenyamanan bersama kami mohon untuk keluar ruangan kecuali keluarga si anak”, pintaku.

Operasi segera kita mulai. Dr. Maschun mengusulkan untuk dilakukan amputasi langsung dengan anastesi local (block anastetion). Saya mengusulkan untuk di anastesi umum saja dengan pertimbangan anastesi local tidak terlalu efektif pada pasien ini. Anak akan ketakutan ketika melihat dan merasakan kakinya dipotong. Ketakutan inilah yang akan menurunkan ambang sakit si anak.

“Tapi anak belum dipuasakan, barusan dikasih susu dan bubur oleh keluarganya”, terang dr. Maschun. Memang pada saat melakukan anastesi umum seharusnya pasien dalam kondisi puasa (umumnya puasa 6 jam untuk mengosongkan lambung). Jika lambung masih terisi makanan ditakutkan akan terjadi aspirasi makanan ke dalam parunya. Aspirasi inilah yang bisa berakibat fatal pada pasien.

“OK, tetapi infus harus segera terpasang. Dan kita injeksi diazepam i.v untuk melancarkan blok anastesinya”.      

 ” Ya, Bismillah. Mari kita mulai”, ujar dr. Maschun sambil meminta seorang mantri unuk segera memasang infus si anak.

Diazepam setengah ampul sudah masuk. Satu menit kemudian anak langsung terlihat mengantuk. Segera kita suntikkan lidokain ke syaraf utama terdekat, kemudian dilanjutkan injeksi lidokain mengelilingi area yang akan di amputasi. Kami sudah menghabiskan 5 ampul lidokain, namun si anak tetap kesakitan saat lukanya mulai di irigasi.  Ditambah 2 ampul lidokain lagi untuk memblok syaraf tepinya, tetap saja anak masih kesakitan, apalagi ketika sebagian kulitnya dipotong untuk dirapikan! “Auw, mamaee,….”, jerit si anak sangat keras.

“Pak Maschun, kayaknya anastesi local seng efektif lai, kita pake ketamin saja ya?”, usulku. ” Ya, tetapi infusnya belum siap, mantri yang diminta menyiapkan infuse set belum datang juga”, kata dr. Maschun. Sambil menunggu mantri yang menyiapkan infus datang kita tetap berusaha membersihkan luka dan menggunting kulit-kulit yang tidak bisa dipertahankan lagi. Di puskesmas kataloka ini memang ada sedikit problem dengan pelayanan kesehatannya. Tidak saling percayanya antar rekan kerja menjadikan prosedur anfrak obat-obat gawat daraurat menjadi kurang cepat. Dulu ceritanya banyak kasus obat hilang di puskesmas. Makanya sekarang untuk mengantisipasi kebocoran obat harus lapor dulu ke mantri Basar pemegang kunci apotik, baru dapat mengambil obat dan alat-alat yang diperlukan. Iya kalo rumahnya dekat, ini cukup jauh lho! Nah, kalo pasiennya butuh penanganan cepat bagaimana? Yang ini nih tugasnya dr. Maschun untuk memperbaiki kinerja puskesmasnya.

Setengah jam kemudian infuse terpasang di lengan kiri si anak. Sekarang bagian tugasku untuk menjadi dokter anastesinya. Saya mulai memasukkan obat-obat premedikasi melalui slang infusnya. Injeksi diazepam setengah  ampul lagi, 1 ampul dipenhidramin untuk anti muntahnya kemudian 0,5 mg ketamin yang telah aku encerkan sebagai anastesi utamanya. Anak telah tertidur, dr. Maschun mulai memotong tulang-tulang yang beronggokan di ujung kakinya. Sambil mengawasi anastesinya saya membantu untuk memotong kulit-kulitnya yang tak beraturan. Cukup tegang memang, ini operasi amputasi pertama yang kita lakukan di Maluku. Apalagi ketika ada arteri yang terpotong. Curr,… darah mengucur kencang. Cepat-cepat kita ligasi arteri untuk meghentikan darahnya. “Gus, untung Ente belum pulang ke Kesui. Kalo seng saya bisa kewalahan nih”. ” He, he ada hikmahnya juga ya beta belum pulang kesui”.

Dan bagian yang paling sulit bagi kami, adalah ketika harus membuat flap (lapisan kulit) untuk menutupi luka dan amputasinya. Dengan penuh teliti dr. Maschun membuat flap utuk punggung kaki, sedang aku di bagian ujung telapak kakinya. Rumit memang,…orang-orang yang melihatpun ikut tegang. Orang-orang di sini memang bandel, sudah disuruh untuk keluar tetap saja melongok-longok di pintu dan lubang ventilasi puskesmas. “Memang ini tontonan apa !”, umpatku dalam hati.

Dua jam kemudian operasi telah selesai. Flap berhasil kita pasang dengan baik. Mudah-mudahan hasilnya juga memuaskan. Dr. maschun tersenyum padaku, aku membalas senyumnya. Masyarakat yang sejak tadi memperhatikan kami dengan serius ikut tersenyum pula. Alhamdulillah selesai jua pekerjaan sulit ini.

Anak laki laki itu bernama Nyong, usia 10 tahun. Bapaknya telah meninggal sejak masih menyusu ibunya. Karena factor ekonomi, ibunya kembali ke Ternete di kampong asalnya. Si Nyong dititipkan di keluarga bapaknya menjadi anak piara. Seorang anak yang lincah dan berani, sayang kurang mendapat perhatian dari keluarganya. Harusnya anak-anak seusianya, jam-jam waktu kecelakaan tergilas truk tadi, mereka sedang asyik mengaji di surau-surau kampungnya. Bukannya bermain-main mengejar truk dan berebutan melompat ke bak belakangnya. Pendidikan yang salah asuh dan penyesalan sayangnya memang selalu di akhir. Sekarang anak itu terbaring di ruang rawat inap puskesmas, masih saja merintih kepanasan di ujung kaki kanannya. Teramputasi kakinya. Teramputasi kasih sayangnya. Syafahullah. (Kesui, 1 Muharram 1428 H)

Partus Sungsang

Sore tadi sewaktu aku masih tidur, tiba-tiba aku dibangunkan oleh pak Raja. Tidak seperti biasanya, antua mau membangunkan saya saat tidur sore. Pasti ada yang sangat penting pikirku.

“Pak Dok, bangun Pak Dok. Ada orang yang mencari Pak Dok dari kampong seberang.”

Aku segera terbangun. Kepala ini masih terasa berat. Tadi siang memeriksa banyak pasien di puskesmas. Pukul setengah dua sore baru pulang dari tugas. Sholat dhuhur, makan siang kemudian tilawah qur’an setengah juz. Belum setengah jam berbaring, kini sudah dibangunkan. Inilah sepenggal potret seorang dokter. Ternyata jam dinasnya bisa dua puluh empat jam full Bung!

“Baik Pak Jou, tunggu sebentar beta ganti pakaian dulu.”

Di ruang tamu, sembilan orang telah menungguku. “Selamat sore Dok!”, serempak mereka memberi salam padaku. Di Maluku, apabila salam yang diucapkan bukan assalamu’alaikum berarti mereka orang obet. Oh, mungkin ini rombongan dari kampung obet yang mau berobat padaku, aku membatin. Obet adalah panggilan untuk Robert. Robert merupakan nama yang bisa dianggap mewakili orang nasrani secara keseluruhan.  Orang maluku senang menyingkat nama dan kata, maka nama Robert dipanggillah dengan Obet. sedangkan nama yang mewakili orang Islam adalah Acang, singkatan dari Hasan. 

          Memang di pulau Kesui ini setelah pasca kerusuhan massal, terjadi pemulangan pengungsian besar-besaran di sini. Sewaktu kerusuhan dulu mereka memilih sendiri mengungsi untuk sementara waktu. hal ini tidak sesuai dengan pemberitaan di media massa (bahkan diblow up) di luar negeri tentang issu peng_Islaman massal terhadap orang-orang kristen di Kesui. Di Kesui pun tidak ada kasus pengusiran kepada penduduk yang bukan Islam tetapi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan mereka mengungsi dulu. Sekarang mereka telah kembali ke kampung asalnya. Karlomin, Wunin, Tanah Soa dan Eldedora.

“Sore”, jawabku singkat dengan muka sedikit terlipat. Aku mencoba untuk tersenyum pada mereka. Senyum yang kurang tulus. Astaghfirullah, batinku.

“Ada yang bisa saya bantu Pak?”, ini pertanyaan standarku ketika ada tamu yang mencariku.

Seorang tua yang mungkin kepala rombongan mengemukakan jawaban, “Maaf Pak Dok. Kami minta tolong jua. Di kampung kami, Karlomin ada orang yang mau melahirkan sejak semalam tapi sampai sekarang belum bisa lahir juga bayinya.” Kemudian seorang wanita setengah baya menyambung ucapan bapak tadi, “Iya Dok. Ini ada surat dari Bu Bidan Karlomin.” Wanita itu segera mendekatiku dan meyerahkan sepucuk suratku.

 “Siapa yang satu rumah dengan ibu yang melahirkan.” Tanyaku dengan nada cukup tinggi.

“Saya Dok”, seorang bapak mengangkat tangannya.

“Ibu mulai merasa kesakitan jam berapa Pak?”

“Kira-kira jam 12 malam tadi Pak Dok.”

“Kalau keluar lendir darah dari jalan lahir jam berapa Pak?”, saya mencoba meng-anamnesis. Hal ini sangat penting untuk menegakkan diagnosis yang tepat. Kalau salah diagnosis bisa gawat nantinya. Bukankah jarak ke Karlomin sangat jauh, melintasi lautan lagi!

Di sepucuk surat itu tertulis :

Dengan Hormat,

Bersama surat ini saya sampaikan buat Bapak mantri Taha bahwa saya minta tolong, sampaikan kepada Bapak Dokter supaya tolong datang di Karlomin dulu, untuk menolong pasien yang sedang melahirkan, karena sampai sekarang pasien tersebut belum dapat melahirkan.

Demikian untuk diketahui. Atas bantuan dan pengertian baik Bapak, saya ucapkan banyak terimakasih.

Karlomin, 20 februari 2007

A. Esserey

Aku segera menulis surat kepada mantri Hamka, seorang pegawai honorer Puskesmas untuk segera menyaiapkan infus set, cairan infus dan obat-obat injeksi standar pertolongan kasus partus. Sembari menunggu perlengkapan tersebut aku memberikan pengarahan kepada orang-orang yang hendak membawaku ke Karlomin.

“Bapak, Ibu, persalinan adalah hal yang alami. Tuhan telah menciptakan proses persalinan itu dengan sedemikian sempurnanya. Untuk dapat melahirkan seorang bayi maka seorang ibu harus mengalami pembukaan lengkap 10 centi pada rahimnya. Nah untuk mencapai pembukaan lengkap tersebut membutuhkan waktu 9 sampai dengan 13 jam rata-rata. Kalau pada Ibu ini hamil yang keberapa kali Pak?”

“Hamil ke lima Dok. Dan kedua anak terakhirnya meninggal saat melahirkan! Makanya kami segera memanggil Dokter untuk menolong segera. Kami khawatir lagi Dok.”

“Iya, mudah-mudahan selamat. Siapa nama ibu yang hendak melahirkan itu?”

“Joshefa Dok.”

“Ibu Joshefa seng pernah periksa kehamilannya ke beta kah?”

“Benar Dok, memang ibu Joshefa belum pernah periksa ke dokter di puskesma”, jawab laki-laki itu.

Tak lama kemudian seorang laki-laki membawa satu tas plastic berisi obat-obat dan cairan pesananku di puskesmas.

“Mari katong segera berangkat Pak. Lebih cepat lebih baik!”

Aku segera keluar rumah sambil diiringi rombongan penjemputku. Di pantai telah menunggu sebuah jhonson besar dengan mesin 15 PK.

“Berapa lama Pak, katong bisa sampai Karlomin?”

“Sekitar setengah jam Dok.”

“Mari Bismillah katong segera berangkat”

Mesin telah dinyalakan. Perahu kayu itu segera melaju. Memutari setengah daratan pulau Kesui. Perjalanan yang hening. Aku tak banyak bicara. Mencoba menikmati perjalanan yang panjang. Hamparan hijau hutan, tebing batu raksasa, ratusan ikan terbang melintasi perahu kami juga ombak yang cukup besar seringkali menampar dinding perahu kayu kami.

Pukul 16.00, kami sudah sampai di Karlomin. Kami menyusuri kali mati di tepi kampung kemudian berjalan mengikuti jalan setapak menuju kampung induk.  Dusun yang sepi dengan deretan perumahan gubug tersusun rapi memanjang.

Kini kami telah sampai di rumah pasien. Suara tangis dan ratapan perempuan terdengar jelas di bale rumahnya.  seorang laki-laki setengah baya dengan pakaiannya yang serba hitam mendekatiku. di tanggannya ergenggam al kitab usang yang baru saja dibacanya.

“Pak Dok, bayinya telah meninggal. lahir setengah jam yang lalu. Bu Bidan sudah berusaha menolong semampunya. tapi karena lahirnya sungsang, Bu Bidan kesulitan. saat lahir bayi sudah mati.”

kemudian aku diantar menuju kamarnya. di sana, tampak seorang wanita kurus terbaring lemas di lantai. Disampingnya duduk seorang wanita tua dengan penuh kasih sayang mengusap-usap kepalanya. mungkin ini Bu Bidan Eseray, batinku.

“Pak Dok, selamat sore. Saya Bidan Eseray. Perdarahannya masih banyak Dok”

Tanpa banyak kata, Aku periksa perut ibunya untuk menilai penyusutan uterusnya. Lembek batinku, bahaya ini. Perdarahan cukup banyak mengalir dari jalan lahirnya. Secepatnya aku suntikkan Metyl Ergometin dipaha kanannya. Segera aku siapkan infuse set, aku suruh gantungkan botol infuse di dinding rumah papan kayunya. Abbocath aku tusukkan di vena lengan kanannya. Alhamdulillah lancar. Bisa gawat jika abbocath gagal masuk ke venanya. Aku Cuma membawa abbocath ini satu-satunya. Punya puskesmas habis. Ini sisanya. Kalau gagal masuk dan keriting bisa setengah mati kita pasang infusnya.

Kemudian aku guyur cairan RL 1 kolf untuk mengejar perdarahan. Aku periksa kembali uterus di perut bawahnya,….Alhamdulillah sudah mengkerut keras. Berarti perdarahan sudah bisa teratasi. Bu bidan desa yang dari tadi melihatku, aku minta tolong untuk mengganti cairannya dengan RL kembali. Untuk mencegah terjadinya infeksi aku suntikkan oxitetraciclin 2 cc ke ibunya. Alhamdulillah kondisi gawat daruratnya telah bisa kita atasi. Aku titipkan 2 botol infuse sisa, obat oral dan injeksi antibiotic 1 flacon kepada bu bidan Eserey.

          “Maaf, Dok, harga obatnya semuanya berapa?”, tannya bidan tua itu membisiku. Aku diam sejenak, berfikir untuk mengambil keputusan. Kalau dilihat dari kondisi rumah, suami dan ibunya sangat memprihatinkan. Aku tak tega menarik biaya buat mereka.

          “Bu Bidan, semua obat saya kasihkan buat bu Joshefa. Seng usah bayar lay.”, jawabku. Semua orang yang dating menunggui ibu tadi terbengong-bengong, mungkin heran melihat seorang dokter yang masih sangat muda mau dating langsung ke desa pengungsian mereka apalagi tidak dibayar!

          “Baik Bu, insya Allah kondisi ibu Joshefa aman-aman saja jadi saya mau minta pamit untuk pulang.”, suaraku memecah hening ruangan.

          “Tapi sebelum pulang, tolong kumpulkan ibu-ibu yang yang sedang hamil terutama yang mendekati persalinannya. Saya akan memeriksa kehamilannya. Apabila posisi janinnya baik berarti boleh melahirkan di kampong ini. Taapi apabila ada kelainan pada kandungannya nanti harus lahir di rumah sakit.”

          Semua ibu-ibu hamil telah berkumpul tak ketinggalan juga ibu-ibu PUS ataupun remaja putrinya. Aku segera mengadakan penyuluhan singkat tentang pentingnya kunjungan ibu hamil untuk periksa secara rutin di Puskesmas. Untuk memperjelas pemahaman ibu-ibu tersebut aku mengambil contoh langsung dari ibu Joshefa. Secara medis apabila dua kali berturut-turut bayi meninggal saat kelahiran berarti kelahiran berikutnya harus berada di rumah sakit yang memiliki fasilitas cukup lengkap. Artinya ibu ini memiliki riwayat kandungan yang kurang baik. Hal ini bisa disebabkan bayi yang terlalu besar atau jalan lahir yang terlalu sempit. Apabila ibu Joshefa kemarin-kemarin periksa ke puskesmas, beta pastikan tidak boleh melahirkan di kampong. Dan bagi ibu-ibu yang masih dalam usia subur, saya mohon untuk bisa mengatur jarak kehamilannya. Ibu-ibu bisa ikut program KB sesuai dengan keinginannya, bisa minum pil Kb, suntik 1 atau 3 bulanan ataupun dengan metode kontrasepsi mantap. Begitu ya Ibu-Ibu, sekarang sudah paham ya?”, tanyaku mengetes mereka. Sejak tadi ibu-ibu itu begitu serius mendengarkan penyuluhanku.

          “Paham Pak Dok.”, serempak mereka menjawab.

          “Baik. Sekarang bagi ibu-ibu yang mendekati persalinannya beta periksa dulu.” Aku masuk ke kamar tempat merawat ibu Joshefa. Secara bergiliran aku periksa kehamilan mereka. Alhamdulillah semuanya baik.

          “Ibu, mudah-mudahan persalinannya lancar nantinya. Setiap pagi ibu biasakan jalan-jalan ya, agar otot-otot persalinannya kuat dan lahirnya akan lebih mudah. Kepada Bu Bidan saya mohon untuk mencatat ibu-ibu di Karlomin yang sedang hamil nanti bisa saya kasih vitamin penambah darah buat mereka. Vitaminnya bisa diambil pada saat ada orang Karlomin yang berobat tau mampir di Suar.”

          Di ruang tamu telah tersedia the panas dan sepiring kue serabi. Aku dipersilahkan istirahat dulu dan menikmati sajian seadanya. Jam dinding lapuk menunjukkan pukul 18.00. Setelah selesai meminum the aku segera pamit pulang. Aku tengok seonggok orok kaku yang terbungkus selimut tebal. Sesaat pikiranku melayang mencoba merangkai kronologis kematiannya. Ibunya bernama Joshefa, usia 35 tahun. Diagnosisnya adalah  G5P5A0 (Gravida, hamil 5x, Para, melahirkan 5x dan tidak pernah keguguran, Abortus), perdarahan post partum telah mengakibatkan pre syok hipovolemik(kekurangan darah). Riwayat obstetric yang jelek. Sudah dua kali anaknya meninggal saat melahirkan. Kini terulang kembali. Bayi meninggal saat melahirkan. Pukul 15.30 yang lalu, seorang bayi perempuan cantik dengan perkiraan berat badan 4 kg!!! Persalinan lama karena bayi besar dengan posisi bayi sungsang! Siapa yang salah Tuan?

Manusia memang punya rencana. Tuhan punya rencana. Dan Tuhan lah yang menentukan. Tapi sudahkah kita berbuat yang terbaik buat mereka? Agar ribuan ibu-ibu dan bayinya aman dan sehat saat melahirkan. Coba bayangkan! Seandainya ibu Joshefa adalah ibu, kakak atau adik perempuan Anda sendiri???

(Kesui, 22 Februari 2007)

Saya heran melihat fenomena generasi muda sekarang. Saya tak begitu risau dengan gaya busana laki-lakinya. Tapi saya sangat prihatin dengan cara berpakaiannya remaja putrinya. Semakin hari semakin berusaha mengksploitir lekuk aurat tubuhnya. Astaghfirullah.

Saya lebih prihatin lagi ketika menjumpainya di daerah sangat terpencil ini. Di satu sisi pendidikan sangat tertinggal namun di sisi lain arus informasi televisi (melalui parabola) yang begitu cepat telah menimbulkan efek yang tidak sehat. Bayangkan setiap hari dijejali nilai-nilai yang tidak mendidik baik dalam sikap, gaya hidup termasuk cara berpakaian idola-idolanya. Mereka remaja-remaja yang lugu yang belum memiliki sens of filter terhadap nilai-nilai yang mempengaruhinya. Walhasil fenomena-fenomena itu bisa dilihat di daerah yang sangt terpencil ini. Bibir menor dengan pakaian minim ekstra ketat telah menjadi pemandangan yang biasa (padahal bagi saya luar biasa!)

Mungkin para remaja itu mengira, dengan cara berpakaian seperti itu ia akan merasa lebih cantik dan mempesona. Memang iya, kalau hal tersebut dilakukan pada ‘tempat dan waktu’ tersendiri. Saya tidak akan membahasnya di sini. Namun ketika tubuhnya dipertontonkan kepada khalayak ramai, apakah remaja-remaja itu mendapatkan manfaat dari perbuatannya itu?

Coba kita berfikir jernih! Karena saya seorang dokter maka saya mencoba menguaknya dari segi keilmuan saya. Pakaian yang ketat dan atau terbuka akan berpengaruh pada keseimbangan suhu tubuh kita. Proses radiasi, konveksi dan evaporasi tubuh akan terganggu. Akibatnya kondisi tubuh kita akan merasa ketidaknyamanan. Di lingkungan yang suhunya relatif tinggi kita kepanasan. Sedang di tempat yang suhunya lebih rendah kita kedinginan. Aktivitas menjadi tidak lancar dan kurang optimal. Itulah fisiologinya.

Belum lagi akibat paparan sinar matahari langsung yang mengandung sinar ultraviolet. Kadar yang ringan memang tidak menjadi masalah, tetapi dengan frekuensi paparan yang berlebihan apalagi kadar UV yang tinggi akibat ozon yang menipis bisa menjadi factor predisposisi kelainan pada kulit. Ada dermatitis solaris, hipercromatis karena banyaknya melanin yang terangsang, sampai yang paling mengerikan adalah kanker kulit.

Pakaian yang ketat bisa menyebabkan kelembaban yang tinggi di permukaan kulit, apalgi di daerah yang tropis. Kelembaban yang tinggi ini bsa menjadi faktor pemicu tumbuhya jamur kulit. Ada panu (Pytiriasis versicolor), kadas (Tinea corporis), keputihan (Candidiasis) dan aneka jenis jamur lainnya. Jadi tidak sehat kan? Nyaman juga tidak!

Ini baru ditinjau dari segi fisiologi dan penyakit kulit. Lebih jauh lagi kalau kita bedah melalui ilmu jiwa/psikiatri, maka kita kan menemukan fakta yang mencengangkan!

Kenapa tidak? Karena orang-orang yang suka mempertontonkan auratnya di depan khalayak ramai untuk mencari kepuasan dirinya (dianggap cantik dan sensual) adalah orang-orang yang mengidap kelainan jiwa exhibionisme. Kelainan jiwa inilah yang menuntut wanita-wanita tersebut untuk berusaha selalu mengeksploitir auratnya. Mulanya mungkin mereka sadar kalau mengumbar aurat itu tidak pantas, tetapi karena pengaruh lingkungan dan kebiasaan akan menjadikannya mengendap di alam bawah sadarnya. Sehingga ia akan merasa benar terhadap tindakannya. Tidak cantik kalau tidak buka aurat. Inilah perilaku exhibionisme masa kini!

Perilaku inilah yang akan berdampak luas di masyarakat. Kita bisa saksikan angka kejahatan yang tinggi dari perkosaan, pelecehan seksual, narkoba adalah efek dari exhibionisme ini. Kasus perceraian rumah tangga, maraknya bisnis prostitusi, ‘dewasa dini’ pada anak-anak kecil adalah bagian dari mata rantai akibat sakit jiwa tersebut. Memprihatinkan memang!

Makanya saya sangat prihatin dengan cara berpakaian wanita jaman sekarang. Ingin terlihat cantik dengan cara yang keliru. Berdalih kebebasan dan hak asasi manusia (apa bedanya dengan hak asasi hewani yang bebas tidak memakai busana?), lalu mengeksploitasi diri lepas aurat dan sensualitas. Menjadi barang tontonan dan sama sekali tidak patut menjadi tuntunan. Sebab wanita-wanita itu pada hakikatnya adalah pengidap panu, kurap dan sakit jiwanya. Kasihan nian, ingin cantik justru megidap penyakit. Na’udzubillahi min dzalik.

Saya sedang tidak memprovokasi, memanas-manasi dan memancing ikan di air keruh. Ataupun menghalang-halangi orang dalam menuntut kebebasan dan hak asasinya. Tidak! Bukan itu maksud saya. Saya hanya ingin mendudukkan persoalan ini pada tempat dan proporsinya. Sehingga tidak menjadi biang bagi kerusakan diri dan sosial yang lebih luas lalu bersama-sama mencari solusi cerdasnya.

Alhamdulillah saya tak perlu repot-repot untuk mencari solusinya, sebab solusi itu sudah ditunjukkan lebih dari 14 abad yang lalu. Al qur’an telah memberi tuntunan terbaik dalam adab berpakaian. Bukan pakaian gamis arabnya, namun pakaian apapun jenisnya yang mampu melindungi diri dari sakit baik jasad dan rohani, pribadi juga sosial.

“Dan katakanlah kepada para wanita yang beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya,…(QS. An Nur 21)

Itulah mode pakaian gaya al Qur’an. Sebuah pakaian yang tidak sekedar menutup tubuh, namun pakaian yang bisa menghindarkan diri dari penyakit badan dan penyakit hati. Subhanallah. Bersih badan, suci hati dan pikiran. Menjadi pakaian yang akan mempercantik pemakainya. Cantik alami yang syar’i.

Inilah pakaian ketakwaan! Lebih lanjut Al Qur’an menerangkan :

“Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang terbaik,…” (QS. Al A’rof 26).

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid dan makan minumlah tapi jangan berlebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan!” (QS. Al A’rof 31).

Demikianlah beberapa nasihat indah dalam Al Qur’an kepada kita tentang adab/tata cara berpakaian. Sungguh luar biasa! Solusi yang tepat bagi para exhibionist. Artinya : kita memang dituntut untuk tampil cantik tetapi bukan sekedar ‘cantik’ saja! Dengan pakaian takwa, kita bisa lebih cantik, sehat dan berpahala. Inner beauty yang sejati! Tidak seperti mode pakaian ‘udel bolong’ yang panuan, kurap dan sakit jiwanya,…..

(Kesui, 3 Juli 2006)

Ashtma Attack

Jam di HP-ku menunjukkan pukul 14.20 WIT. Biarpun HP butut itu tidak bisa dipakai di Kesui karena sinyal HP belum ada, namun Nokia 337 itu selalu setia menemaniku,sebagai pengganti jam tangan dan jam weeker yang membangunkanku saat-saat sepertiga malam terakhir. Saat ini sehabis makan siang dan bersantai sejenak untuk istirahat siang hari. Sambil membolak-balik agenda harianku, aku mencoba membuat rencana baru ataupun sekedar menulis dokumentasi pengalaman sehari ini.

Tiba-tiba, aku merasa ada yang tidak enak. Frekuensi nafasku mulai meningkat cepat. Aku sedikt khawatir, jangan-jangan asmaku kumat! Padahal jarang sekali (bahkan tak pernah) asmaku kumat waktu siang hari, kecuali waktu aku masih sekolah SD dulu. Biasanya aku alergi dingin, tapi terkadang kebal juga. Kadang alergi debu kasur, tapi kadang kuat juga. Kalau terlalu capai pun asmaku tidak kumat lagi seperti dulu.

Tapi aneh pada siang hari ini. Tiba-tiba nafasku semakin sesak. Bunyi wheezing paruku semakin dengar jelas meski tanpa memakai stetoskop. Aku mulai berfikir apa penyebab serangan asmaku ini? Memang tadi angina laut menerpa kencang menembus jendela kamrku. Atau tadi aku memakan makanan yang mengandung allergen kah? Barusan aku makan nasi, indomie, sayur daun pepaya dan ikan kalengan. Biasanya juga tidak apa-apa, tapi kenapa ini bisa terjadi?

Aku masih belum menemukan jawaban yang memuaskan penyebab asmaku itu. Nafasku semakin kacau. Segera aku kenakan jaket tebal dan sarung membungkus tubuhku. Aku meminum salbutamol 1 tablet 4 mg dan deksametason 0,5 mg. Lima menit belum juga ada tanda-tanda perubahan. Asmaku semakin menjadi! Mungkinkah ini peringatan dari Allah? Selama ini sholatku sedikit kacau. Dua hari ini matsuratku juga sering bolong-bolong. Astaghfirullah.

Ya Allah ampuni hamba-Mu ini. Segera aku teringat Bricasma yang aku simpan di kotak obat gawat daruratku. Rencananya bricasma ini aku pakai pada pasienku yang terserang asma attack. Tapi belum juga ada pasien yang membutuhkan sekarang justru aku sendiri yang memerlukannya. Aku mabil bricasma 1 ampul lalu aku suntikkan sendiri sub kutan di siku tangan kiriku,…….Pukul 14.35 WIT, ashma attack-ku sudah bisa terkendali. Alhamdulillah.

Akupun mulai bisa beristirahat. Kejadian serangan asma tadi mengingatkanku pada masa kecilku dulu. Anganku menerawang menuju 15 tahun silam. Membuka kembali lembar kenangan masa laluku. Kenangan-kenangan itulah yang seringkali menumbuhkan inspirasi dan motivasi tersendiri bagiku. Dan salah satunya telah memotivasiku untuk memilih dokter sebagai cita-cita pilihanku.

Sejak kecil keluargaku mengajarkan pentingnya rajin membaca. Ayahku setiap pulang mengajar di sekolah selalu berusaha membawakan oleh-oleh buku bacaan buatku dan saudara kembarku. Setiap buku bacaan pasti akan kami lahap dengan cepat. Dan kami tidak mau beranjak bermain ke luar rumah jika memang bacaan itu belum selesai semua. Lalu, apabila buku-buku itu telah kita lahap dan rasa ingin tahu kita masih tinggi maka lemari strongkas di ruang tengah rumah kami segera kami bongkar. Mencari buku-buku yang ingin kita baca kembali. Bila perlu mengambil buku-buku pelajaran kakakku yang sedang sekolah di SMP dan SMA. Buku biologi, sejarah Indonesia dan dunia, fisika dan bahasa sudah selesai aku lahap sejak kelas 3 SD. Bahkan selama sekolah di SD, aku dan saudara kembarku jarang sekali belajar buku-buku pelajaran SD, kami lebih menikmati membaca buku-buku SMA kakakku dan pengetahuan umum lainnya.

Selain minat baca yang tinggi, keluargaku juga mengajarkan pentingnya memiliki semangat kompetisi. Ayah, ibu dan kakakku selalu mengajarkan persaingan yang sehat. Meski postur badan kami yang mungil tetapi kami tidak boleh kalah dalam bidang apapun, apalagi dalam hal pelajaran di sekolah. Kalau bisa kami harus selalu menjadi ranking I. mesi demikian ada hal yang membuat prestasi sekolahku di SD hamper selalu kalah dengan saudara kembarku. Biasanya saudara kembarku, Andy selalu mendapat ranking I di kelas, sedangkan aku hanya mendapat rangking II atau III. Kami selalu bersaing dengan Yuli, anak kepala dusun sebelah kampungku.

Sejak kecil aku memang sudah memiliki asma. Sungguh sakit ini seringkali menggangguku. Sesak nafas dengan suara mengik menjadi langganan bulanan bahkan mingguan. Setiap asmaku kumat maka aku harus segera dibawa berobat ke dokter atau puskesmas. Hal yang paling menyiksa adalah ketika asmaku kumat pada malam hari sedangkan obat telah habis. Jelas puskesmas telah tutup dan ayah tak mungkin mengantarku ke bu mantri ataupun pak dokter malam itu juga sebab jaraknya yang sangat jauh. Waktu itu belum ada sepeda motor di kampungku, ayah hanya memiliki sebuah sepeda onta antik yang setia mengantarnya ke sekolah tempat kerjanya. Terpaksa aku harus berjuang menghela nafas. Ngik,..ngik,…ngik. nafasku satu-satu! Di saat seperti itulah seringkali saudara-saudaraku menangis karena sedih melihat penderitaanku.

Seringkali aku harus berobat ke pak dokter di puskesmas Binangun, kota kecamatan. Jarak tempuh dari rumahku ke tempat praktek pribadi dokter kurang lebih 3 Km. Biasanya kami berangkat sore haji selepas asar. Ayah mengantarku dengan menaiki sepeda onta kesayangannya. Aku duduk di belakang ayah dengan nafas yang makin tersengal. Dalam hati aku berharap agar perjalanan ke tempat dokter menjadi lama,…

Jujur aku takut sekali saat diperiksa oleh pak dokter itu. Aku merasa semua penyakitku bisa terbaca saat dokter memeriksanya dengan stetoskopnya. Rasa takut itu makin menjadi saat ayahku  meminta pak dokter untuk menyuntikku. “Biar cepat sembuh.”, hibur ayahku singkat.

Lalu “Jess,..” saat jarum suntik tajam itu menembus bokongku. Itulah saat yang paling menegangkan!

Seringnya berobat dan suntik menjadikanku memiliki teknik tersendiri untuk mengurangi sakit saat disuntik. Ayah selalu mengajarkan untuk melirik dokter saat akan menyuntikku, kemudian tekuklah segera tungkai yang sebelah bokongnya disuntik. Teknik ini selalu aku coba dan praktekkan dengan baik. Tapi nyatanya,… rasa sakit itu tetap ada bahkan suntikan jarum itu terasa lebih sakit!

Penderitaanku belum selesai sampai disini saja. Ada satu hal lagi yang menakutkanku, yakni waktu pulang selesai berobat ke rumah. Dengan membonceng ‘onta’ di belakang ayah. Dengan nafas masih tersengal aku semakin kesakitan saat sepeda melewati jalanan yang berbatu. Aku seperti terlempar-lempar dari sepeda. Tubuhku naik turun mengikuti gerak sepeda dengan shockbreaker-nya yang telah mati. Bekas suntikan di pantatku semakin perih. Terkadang renbesan darah keluar dari bekas suntik tadi. Sebuah penderitaan yang selalu membekas di hatiku. Tersimpan dan mengendap di alam bawah sadarku.

Dari pengalaman itulah, suatu saat kelak menimbulakan inspirasi yang hebat. Dengan bekal kemampuan membaca yang kuat dan semangat untuk berani bersaing meski dengan modal biaya yang pas-pasan, aku berhasil menembus persaingan masuk di fakultas kedokteran. Dan sekarang aku telah benar-benar menjadi seorang dokter sungguhan. Cita-citaku tercapai, seperti tercapainya keinginan serta doa ayah dan ibuku setiap aku kumat terserang asmanya. “Mudah-mudahan besok besar bisa menjadi seorang dokter, biar bisa mengobati sendiri dan menolong orang lain Lhe”, doa ibuku. Doa mereka terkabul. Alhamdulillah.

Dari pengalaman itulah, sampai sekarang aku selalu berusaha berempati kepada pasien-pasienku, sebagaimana tersiksanya aku saat terserang asma dulu. Lalu, apabila ada pasien anak yang diantar orang tuanya berobat, aku selalu membesarkan hati anak-anak kecil itu. Mencandai mereka dan menyenangkan perasaan mereka. “Semoga lekas sembuh ya”, kataku saat menulis resep untuknya. “Rajin belajar, menjadi anak yang sholeh dan besok besar menjadi dokter ya,…”nasihatku di akhir pemerikasaan.

Membuka lembar kenangan itu telah melahirkan inspirasi bagiku. Terima kasih duhai Robbi. (Kesui, 22 Juni 2006)

Late Cold Syhock

Umi, 25 tahun. Syok septic fase kritis. Tensi darah palpasi. Kesadaran menurun dengan GCS E1M1V1.

Tujuh hari yang lalu melahirkan. Curiga perdarahan fase lambat pada uterusnya. Sejak empat hari yang lalu tidak bisa Bak dan Bab. Terlihat perut membesar layaknya wanita hamil 9 bulan. Bising usus lemah sekali terdengar.

Segera setelah aku periksa, aku panggil suami dan pamannya.

“Pak, Bu Umi ini ada infeksi di rahim dan perutnya yang sekarang telah menjalar ke seluruh tubuh. Saya sarankan bapak untuk bersiap-siap rujuk ke Ambon. Ini kasusnya cukup berat. Katong tidak bisa atasi di sini. Tetapi kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mengatasi penyakitnya.

Aku coba melakukan kompresi lewat anal. Dua kali gagal. Nafas ibu semakin sesak. Udara yang banyak terperangkap ditambah gas-gas hasil fermentasi bakteri dalam ususnya yang tak bisa keluar. Bagaimanapun juga kita harus melakukan kompresi. Aku segera memanggil perawat yang menemanikku untuk menggunting slang infuse sebagai NGT darurat.

Sembilan bulan yang lalu, saat-saat awal kehamilannya, aku juga yang merawat di rumah pamannya. Waktu itu Umi muntah-muntah terlalu banyak sampai kehilangan banyak cairan tubuhnya. Diagnosisnya hiperemesis gravidarum derajat 2. Selama satu minggu aku merawatnya. Menghabiskan 4 botol infus untuk mengganti cairan tubuhnya. Alhamdulillah sakitnya bisa kita tangani, namun bukan itu saja penderitaannya. Bibinya bercerita padaku kalau Umi sering dipukul dan ditendang oleh suaminya. Pinggangnya kesakitan, perut terasa perih dengan bilur-bilur bekas cambukan tali dipaha dan tangannya. Malang nian nasib Umi.

Saat jenazah Umi digotong ke perahu di kegelapan malam, mataku terus saja mengikuti kepergiannya. Kasihan Umi meninggalkan 4 orang anak yang masih kecil-kecil. Entah suaminya bisa merawatnya atau tidak sebaik Umi.

Rombongan semakin menjauh ke arah pantai. Di sana sebuah jhonson besar telah siap mengantar jenazah ke kampong asalnya. Si Umi kini telah tiada, membawa serta cita-citanya. Lebih baik mati setelah melahirkan anak tercintanya daripada hidup dalam siksaan suami jahatnya. Astaghfirullah, mudah-mudahan allah mengampuni dosa-dosanya. Dan semoga tidak ada lagi istri-istri yang bercita-cita sama dengan Umi. Mati karena kekerasan dalam rumah tangganya,….

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.