Jam di HP-ku menunjukkan pukul 14.20 WIT. Biarpun HP butut itu tidak bisa dipakai di Kesui karena sinyal HP belum ada, namun Nokia 337 itu selalu setia menemaniku,sebagai pengganti jam tangan dan jam weeker yang membangunkanku saat-saat sepertiga malam terakhir. Saat ini sehabis makan siang dan bersantai sejenak untuk istirahat siang hari. Sambil membolak-balik agenda harianku, aku mencoba membuat rencana baru ataupun sekedar menulis dokumentasi pengalaman sehari ini.
Tiba-tiba, aku merasa ada yang tidak enak. Frekuensi nafasku mulai meningkat cepat. Aku sedikt khawatir, jangan-jangan asmaku kumat! Padahal jarang sekali (bahkan tak pernah) asmaku kumat waktu siang hari, kecuali waktu aku masih sekolah SD dulu. Biasanya aku alergi dingin, tapi terkadang kebal juga. Kadang alergi debu kasur, tapi kadang kuat juga. Kalau terlalu capai pun asmaku tidak kumat lagi seperti dulu.
Tapi aneh pada siang hari ini. Tiba-tiba nafasku semakin sesak. Bunyi wheezing paruku semakin dengar jelas meski tanpa memakai stetoskop. Aku mulai berfikir apa penyebab serangan asmaku ini? Memang tadi angina laut menerpa kencang menembus jendela kamrku. Atau tadi aku memakan makanan yang mengandung allergen kah? Barusan aku makan nasi, indomie, sayur daun pepaya dan ikan kalengan. Biasanya juga tidak apa-apa, tapi kenapa ini bisa terjadi?
Aku masih belum menemukan jawaban yang memuaskan penyebab asmaku itu. Nafasku semakin kacau. Segera aku kenakan jaket tebal dan sarung membungkus tubuhku. Aku meminum salbutamol 1 tablet 4 mg dan deksametason 0,5 mg. Lima menit belum juga ada tanda-tanda perubahan. Asmaku semakin menjadi! Mungkinkah ini peringatan dari Allah? Selama ini sholatku sedikit kacau. Dua hari ini matsuratku juga sering bolong-bolong. Astaghfirullah.
Ya Allah ampuni hamba-Mu ini. Segera aku teringat Bricasma yang aku simpan di kotak obat gawat daruratku. Rencananya bricasma ini aku pakai pada pasienku yang terserang asma attack. Tapi belum juga ada pasien yang membutuhkan sekarang justru aku sendiri yang memerlukannya. Aku mabil bricasma 1 ampul lalu aku suntikkan sendiri sub kutan di siku tangan kiriku,…….Pukul 14.35 WIT, ashma attack-ku sudah bisa terkendali. Alhamdulillah.
Akupun mulai bisa beristirahat. Kejadian serangan asma tadi mengingatkanku pada masa kecilku dulu. Anganku menerawang menuju 15 tahun silam. Membuka kembali lembar kenangan masa laluku. Kenangan-kenangan itulah yang seringkali menumbuhkan inspirasi dan motivasi tersendiri bagiku. Dan salah satunya telah memotivasiku untuk memilih dokter sebagai cita-cita pilihanku.
Sejak kecil keluargaku mengajarkan pentingnya rajin membaca. Ayahku setiap pulang mengajar di sekolah selalu berusaha membawakan oleh-oleh buku bacaan buatku dan saudara kembarku. Setiap buku bacaan pasti akan kami lahap dengan cepat. Dan kami tidak mau beranjak bermain ke luar rumah jika memang bacaan itu belum selesai semua. Lalu, apabila buku-buku itu telah kita lahap dan rasa ingin tahu kita masih tinggi maka lemari strongkas di ruang tengah rumah kami segera kami bongkar. Mencari buku-buku yang ingin kita baca kembali. Bila perlu mengambil buku-buku pelajaran kakakku yang sedang sekolah di SMP dan SMA. Buku biologi, sejarah Indonesia dan dunia, fisika dan bahasa sudah selesai aku lahap sejak kelas 3 SD. Bahkan selama sekolah di SD, aku dan saudara kembarku jarang sekali belajar buku-buku pelajaran SD, kami lebih menikmati membaca buku-buku SMA kakakku dan pengetahuan umum lainnya.
Selain minat baca yang tinggi, keluargaku juga mengajarkan pentingnya memiliki semangat kompetisi. Ayah, ibu dan kakakku selalu mengajarkan persaingan yang sehat. Meski postur badan kami yang mungil tetapi kami tidak boleh kalah dalam bidang apapun, apalagi dalam hal pelajaran di sekolah. Kalau bisa kami harus selalu menjadi ranking I. mesi demikian ada hal yang membuat prestasi sekolahku di SD hamper selalu kalah dengan saudara kembarku. Biasanya saudara kembarku, Andy selalu mendapat ranking I di kelas, sedangkan aku hanya mendapat rangking II atau III. Kami selalu bersaing dengan Yuli, anak kepala dusun sebelah kampungku.
Sejak kecil aku memang sudah memiliki asma. Sungguh sakit ini seringkali menggangguku. Sesak nafas dengan suara mengik menjadi langganan bulanan bahkan mingguan. Setiap asmaku kumat maka aku harus segera dibawa berobat ke dokter atau puskesmas. Hal yang paling menyiksa adalah ketika asmaku kumat pada malam hari sedangkan obat telah habis. Jelas puskesmas telah tutup dan ayah tak mungkin mengantarku ke bu mantri ataupun pak dokter malam itu juga sebab jaraknya yang sangat jauh. Waktu itu belum ada sepeda motor di kampungku, ayah hanya memiliki sebuah sepeda onta antik yang setia mengantarnya ke sekolah tempat kerjanya. Terpaksa aku harus berjuang menghela nafas. Ngik,..ngik,…ngik. nafasku satu-satu! Di saat seperti itulah seringkali saudara-saudaraku menangis karena sedih melihat penderitaanku.
Seringkali aku harus berobat ke pak dokter di puskesmas Binangun, kota kecamatan. Jarak tempuh dari rumahku ke tempat praktek pribadi dokter kurang lebih 3 Km. Biasanya kami berangkat sore haji selepas asar. Ayah mengantarku dengan menaiki sepeda onta kesayangannya. Aku duduk di belakang ayah dengan nafas yang makin tersengal. Dalam hati aku berharap agar perjalanan ke tempat dokter menjadi lama,…
Jujur aku takut sekali saat diperiksa oleh pak dokter itu. Aku merasa semua penyakitku bisa terbaca saat dokter memeriksanya dengan stetoskopnya. Rasa takut itu makin menjadi saat ayahku meminta pak dokter untuk menyuntikku. “Biar cepat sembuh.”, hibur ayahku singkat.
Lalu “Jess,..” saat jarum suntik tajam itu menembus bokongku. Itulah saat yang paling menegangkan!
Seringnya berobat dan suntik menjadikanku memiliki teknik tersendiri untuk mengurangi sakit saat disuntik. Ayah selalu mengajarkan untuk melirik dokter saat akan menyuntikku, kemudian tekuklah segera tungkai yang sebelah bokongnya disuntik. Teknik ini selalu aku coba dan praktekkan dengan baik. Tapi nyatanya,… rasa sakit itu tetap ada bahkan suntikan jarum itu terasa lebih sakit!
Penderitaanku belum selesai sampai disini saja. Ada satu hal lagi yang menakutkanku, yakni waktu pulang selesai berobat ke rumah. Dengan membonceng ‘onta’ di belakang ayah. Dengan nafas masih tersengal aku semakin kesakitan saat sepeda melewati jalanan yang berbatu. Aku seperti terlempar-lempar dari sepeda. Tubuhku naik turun mengikuti gerak sepeda dengan shockbreaker-nya yang telah mati. Bekas suntikan di pantatku semakin perih. Terkadang renbesan darah keluar dari bekas suntik tadi. Sebuah penderitaan yang selalu membekas di hatiku. Tersimpan dan mengendap di alam bawah sadarku.
Dari pengalaman itulah, suatu saat kelak menimbulakan inspirasi yang hebat. Dengan bekal kemampuan membaca yang kuat dan semangat untuk berani bersaing meski dengan modal biaya yang pas-pasan, aku berhasil menembus persaingan masuk di fakultas kedokteran. Dan sekarang aku telah benar-benar menjadi seorang dokter sungguhan. Cita-citaku tercapai, seperti tercapainya keinginan serta doa ayah dan ibuku setiap aku kumat terserang asmanya. “Mudah-mudahan besok besar bisa menjadi seorang dokter, biar bisa mengobati sendiri dan menolong orang lain Lhe”, doa ibuku. Doa mereka terkabul. Alhamdulillah.
Dari pengalaman itulah, sampai sekarang aku selalu berusaha berempati kepada pasien-pasienku, sebagaimana tersiksanya aku saat terserang asma dulu. Lalu, apabila ada pasien anak yang diantar orang tuanya berobat, aku selalu membesarkan hati anak-anak kecil itu. Mencandai mereka dan menyenangkan perasaan mereka. “Semoga lekas sembuh ya”, kataku saat menulis resep untuknya. “Rajin belajar, menjadi anak yang sholeh dan besok besar menjadi dokter ya,…”nasihatku di akhir pemerikasaan.
Membuka lembar kenangan itu telah melahirkan inspirasi bagiku. Terima kasih duhai Robbi. (Kesui, 22 Juni 2006)
Wah.. mengharukan ceritanya
Saya juga ada asma dr kecil… padahal rasanya udah menderita bgt klo kambuh dulu ,kluar masuk RS.. hehehe tapi ternyata ada yg jauh lebih menderita yah. Berhubung saya anak jakarta, jaman masih kecilpun sudah ada UGD yg siap setiap saat hehehe.
Salam kenal
ceritanya membuat aku terinspirasi untuk anakku pak dokter…
anakku juga asma.. dan melihatnya sangat tersiksa kalo sang asma itu datang…
mudah2an kelak Fadlan menjadi dokter seperti pak dokter… amien.. ( semoga dikabul juga doa ibu yg satu ini )