Sore tadi sewaktu aku masih tidur, tiba-tiba aku dibangunkan oleh pak Raja. Tidak seperti biasanya, antua mau membangunkan saya saat tidur sore. Pasti ada yang sangat penting pikirku.
“Pak Dok, bangun Pak Dok. Ada orang yang mencari Pak Dok dari kampong seberang.”
Aku segera terbangun. Kepala ini masih terasa berat. Tadi siang memeriksa banyak pasien di puskesmas. Pukul setengah dua sore baru pulang dari tugas. Sholat dhuhur, makan siang kemudian tilawah qur’an setengah juz. Belum setengah jam berbaring, kini sudah dibangunkan. Inilah sepenggal potret seorang dokter. Ternyata jam dinasnya bisa dua puluh empat jam full Bung!
“Baik Pak Jou, tunggu sebentar beta ganti pakaian dulu.”
Di ruang tamu, sembilan orang telah menungguku. “Selamat sore Dok!”, serempak mereka memberi salam padaku. Di Maluku, apabila salam yang diucapkan bukan assalamu’alaikum berarti mereka orang obet. Oh, mungkin ini rombongan dari kampung obet yang mau berobat padaku, aku membatin. Obet adalah panggilan untuk Robert. Robert merupakan nama yang bisa dianggap mewakili orang nasrani secara keseluruhan. Orang maluku senang menyingkat nama dan kata, maka nama Robert dipanggillah dengan Obet. sedangkan nama yang mewakili orang Islam adalah Acang, singkatan dari Hasan.
Memang di pulau Kesui ini setelah pasca kerusuhan massal, terjadi pemulangan pengungsian besar-besaran di sini. Sewaktu kerusuhan dulu mereka memilih sendiri mengungsi untuk sementara waktu. hal ini tidak sesuai dengan pemberitaan di media massa (bahkan diblow up) di luar negeri tentang issu peng_Islaman massal terhadap orang-orang kristen di Kesui. Di Kesui pun tidak ada kasus pengusiran kepada penduduk yang bukan Islam tetapi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan mereka mengungsi dulu. Sekarang mereka telah kembali ke kampung asalnya. Karlomin, Wunin, Tanah Soa dan Eldedora.
“Sore”, jawabku singkat dengan muka sedikit terlipat. Aku mencoba untuk tersenyum pada mereka. Senyum yang kurang tulus. Astaghfirullah, batinku.
“Ada yang bisa saya bantu Pak?”, ini pertanyaan standarku ketika ada tamu yang mencariku.
Seorang tua yang mungkin kepala rombongan mengemukakan jawaban, “Maaf Pak Dok. Kami minta tolong jua. Di kampung kami, Karlomin ada orang yang mau melahirkan sejak semalam tapi sampai sekarang belum bisa lahir juga bayinya.” Kemudian seorang wanita setengah baya menyambung ucapan bapak tadi, “Iya Dok. Ini ada surat dari Bu Bidan Karlomin.” Wanita itu segera mendekatiku dan meyerahkan sepucuk suratku.
”Siapa yang satu rumah dengan ibu yang melahirkan.” Tanyaku dengan nada cukup tinggi.
“Saya Dok”, seorang bapak mengangkat tangannya.
“Ibu mulai merasa kesakitan jam berapa Pak?”
“Kira-kira jam 12 malam tadi Pak Dok.”
“Kalau keluar lendir darah dari jalan lahir jam berapa Pak?”, saya mencoba meng-anamnesis. Hal ini sangat penting untuk menegakkan diagnosis yang tepat. Kalau salah diagnosis bisa gawat nantinya. Bukankah jarak ke Karlomin sangat jauh, melintasi lautan lagi!
Di sepucuk surat itu tertulis :
Dengan Hormat,
Bersama surat ini saya sampaikan buat Bapak mantri Taha bahwa saya minta tolong, sampaikan kepada Bapak Dokter supaya tolong datang di Karlomin dulu, untuk menolong pasien yang sedang melahirkan, karena sampai sekarang pasien tersebut belum dapat melahirkan.
Demikian untuk diketahui. Atas bantuan dan pengertian baik Bapak, saya ucapkan banyak terimakasih.
Karlomin, 20 februari 2007
A. Esserey
Aku segera menulis surat kepada mantri Hamka, seorang pegawai honorer Puskesmas untuk segera menyaiapkan infus set, cairan infus dan obat-obat injeksi standar pertolongan kasus partus. Sembari menunggu perlengkapan tersebut aku memberikan pengarahan kepada orang-orang yang hendak membawaku ke Karlomin.
“Bapak, Ibu, persalinan adalah hal yang alami. Tuhan telah menciptakan proses persalinan itu dengan sedemikian sempurnanya. Untuk dapat melahirkan seorang bayi maka seorang ibu harus mengalami pembukaan lengkap 10 centi pada rahimnya. Nah untuk mencapai pembukaan lengkap tersebut membutuhkan waktu 9 sampai dengan 13 jam rata-rata. Kalau pada Ibu ini hamil yang keberapa kali Pak?”
“Hamil ke lima Dok. Dan kedua anak terakhirnya meninggal saat melahirkan! Makanya kami segera memanggil Dokter untuk menolong segera. Kami khawatir lagi Dok.”
“Iya, mudah-mudahan selamat. Siapa nama ibu yang hendak melahirkan itu?”
“Joshefa Dok.”
“Ibu Joshefa seng pernah periksa kehamilannya ke beta kah?”
“Benar Dok, memang ibu Joshefa belum pernah periksa ke dokter di puskesma”, jawab laki-laki itu.
Tak lama kemudian seorang laki-laki membawa satu tas plastic berisi obat-obat dan cairan pesananku di puskesmas.
“Mari katong segera berangkat Pak. Lebih cepat lebih baik!”
Aku segera keluar rumah sambil diiringi rombongan penjemputku. Di pantai telah menunggu sebuah jhonson besar dengan mesin 15 PK.
“Berapa lama Pak, katong bisa sampai Karlomin?”
“Sekitar setengah jam Dok.”
“Mari Bismillah katong segera berangkat”
Mesin telah dinyalakan. Perahu kayu itu segera melaju. Memutari setengah daratan pulau Kesui. Perjalanan yang hening. Aku tak banyak bicara. Mencoba menikmati perjalanan yang panjang. Hamparan hijau hutan, tebing batu raksasa, ratusan ikan terbang melintasi perahu kami juga ombak yang cukup besar seringkali menampar dinding perahu kayu kami.
Pukul 16.00, kami sudah sampai di Karlomin. Kami menyusuri kali mati di tepi kampung kemudian berjalan mengikuti jalan setapak menuju kampung induk. Dusun yang sepi dengan deretan perumahan gubug tersusun rapi memanjang.
Kini kami telah sampai di rumah pasien. Suara tangis dan ratapan perempuan terdengar jelas di bale rumahnya. seorang laki-laki setengah baya dengan pakaiannya yang serba hitam mendekatiku. di tanggannya ergenggam al kitab usang yang baru saja dibacanya.
“Pak Dok, bayinya telah meninggal. lahir setengah jam yang lalu. Bu Bidan sudah berusaha menolong semampunya. tapi karena lahirnya sungsang, Bu Bidan kesulitan. saat lahir bayi sudah mati.”
kemudian aku diantar menuju kamarnya. di sana, tampak seorang wanita kurus terbaring lemas di lantai. Disampingnya duduk seorang wanita tua dengan penuh kasih sayang mengusap-usap kepalanya. mungkin ini Bu Bidan Eseray, batinku.
“Pak Dok, selamat sore. Saya Bidan Eseray. Perdarahannya masih banyak Dok”
Tanpa banyak kata, Aku periksa perut ibunya untuk menilai penyusutan uterusnya. Lembek batinku, bahaya ini. Perdarahan cukup banyak mengalir dari jalan lahirnya. Secepatnya aku suntikkan Metyl Ergometin dipaha kanannya. Segera aku siapkan infuse set, aku suruh gantungkan botol infuse di dinding rumah papan kayunya. Abbocath aku tusukkan di vena lengan kanannya. Alhamdulillah lancar. Bisa gawat jika abbocath gagal masuk ke venanya. Aku Cuma membawa abbocath ini satu-satunya. Punya puskesmas habis. Ini sisanya. Kalau gagal masuk dan keriting bisa setengah mati kita pasang infusnya.
Kemudian aku guyur cairan RL 1 kolf untuk mengejar perdarahan. Aku periksa kembali uterus di perut bawahnya,….Alhamdulillah sudah mengkerut keras. Berarti perdarahan sudah bisa teratasi. Bu bidan desa yang dari tadi melihatku, aku minta tolong untuk mengganti cairannya dengan RL kembali. Untuk mencegah terjadinya infeksi aku suntikkan oxitetraciclin 2 cc ke ibunya. Alhamdulillah kondisi gawat daruratnya telah bisa kita atasi. Aku titipkan 2 botol infuse sisa, obat oral dan injeksi antibiotic 1 flacon kepada bu bidan Eserey.
“Maaf, Dok, harga obatnya semuanya berapa?”, tannya bidan tua itu membisiku. Aku diam sejenak, berfikir untuk mengambil keputusan. Kalau dilihat dari kondisi rumah, suami dan ibunya sangat memprihatinkan. Aku tak tega menarik biaya buat mereka.
“Bu Bidan, semua obat saya kasihkan buat bu Joshefa. Seng usah bayar lay.”, jawabku. Semua orang yang dating menunggui ibu tadi terbengong-bengong, mungkin heran melihat seorang dokter yang masih sangat muda mau dating langsung ke desa pengungsian mereka apalagi tidak dibayar!
“Baik Bu, insya Allah kondisi ibu Joshefa aman-aman saja jadi saya mau minta pamit untuk pulang.”, suaraku memecah hening ruangan.
“Tapi sebelum pulang, tolong kumpulkan ibu-ibu yang yang sedang hamil terutama yang mendekati persalinannya. Saya akan memeriksa kehamilannya. Apabila posisi janinnya baik berarti boleh melahirkan di kampong ini. Taapi apabila ada kelainan pada kandungannya nanti harus lahir di rumah sakit.”
Semua ibu-ibu hamil telah berkumpul tak ketinggalan juga ibu-ibu PUS ataupun remaja putrinya. Aku segera mengadakan penyuluhan singkat tentang pentingnya kunjungan ibu hamil untuk periksa secara rutin di Puskesmas. Untuk memperjelas pemahaman ibu-ibu tersebut aku mengambil contoh langsung dari ibu Joshefa. Secara medis apabila dua kali berturut-turut bayi meninggal saat kelahiran berarti kelahiran berikutnya harus berada di rumah sakit yang memiliki fasilitas cukup lengkap. Artinya ibu ini memiliki riwayat kandungan yang kurang baik. Hal ini bisa disebabkan bayi yang terlalu besar atau jalan lahir yang terlalu sempit. Apabila ibu Joshefa kemarin-kemarin periksa ke puskesmas, beta pastikan tidak boleh melahirkan di kampong. Dan bagi ibu-ibu yang masih dalam usia subur, saya mohon untuk bisa mengatur jarak kehamilannya. Ibu-ibu bisa ikut program KB sesuai dengan keinginannya, bisa minum pil Kb, suntik 1 atau 3 bulanan ataupun dengan metode kontrasepsi mantap. Begitu ya Ibu-Ibu, sekarang sudah paham ya?”, tanyaku mengetes mereka. Sejak tadi ibu-ibu itu begitu serius mendengarkan penyuluhanku.
“Paham Pak Dok.”, serempak mereka menjawab.
“Baik. Sekarang bagi ibu-ibu yang mendekati persalinannya beta periksa dulu.” Aku masuk ke kamar tempat merawat ibu Joshefa. Secara bergiliran aku periksa kehamilan mereka. Alhamdulillah semuanya baik.
“Ibu, mudah-mudahan persalinannya lancar nantinya. Setiap pagi ibu biasakan jalan-jalan ya, agar otot-otot persalinannya kuat dan lahirnya akan lebih mudah. Kepada Bu Bidan saya mohon untuk mencatat ibu-ibu di Karlomin yang sedang hamil nanti bisa saya kasih vitamin penambah darah buat mereka. Vitaminnya bisa diambil pada saat ada orang Karlomin yang berobat tau mampir di Suar.”
Di ruang tamu telah tersedia the panas dan sepiring kue serabi. Aku dipersilahkan istirahat dulu dan menikmati sajian seadanya. Jam dinding lapuk menunjukkan pukul 18.00. Setelah selesai meminum the aku segera pamit pulang. Aku tengok seonggok orok kaku yang terbungkus selimut tebal. Sesaat pikiranku melayang mencoba merangkai kronologis kematiannya. Ibunya bernama Joshefa, usia 35 tahun. Diagnosisnya adalah G5P5A0 (Gravida, hamil 5x, Para, melahirkan 5x dan tidak pernah keguguran, Abortus), perdarahan post partum telah mengakibatkan pre syok hipovolemik(kekurangan darah). Riwayat obstetric yang jelek. Sudah dua kali anaknya meninggal saat melahirkan. Kini terulang kembali. Bayi meninggal saat melahirkan. Pukul 15.30 yang lalu, seorang bayi perempuan cantik dengan perkiraan berat badan 4 kg!!! Persalinan lama karena bayi besar dengan posisi bayi sungsang! Siapa yang salah Tuan?
Manusia memang punya rencana. Tuhan punya rencana. Dan Tuhan lah yang menentukan. Tapi sudahkah kita berbuat yang terbaik buat mereka? Agar ribuan ibu-ibu dan bayinya aman dan sehat saat melahirkan. Coba bayangkan! Seandainya ibu Joshefa adalah ibu, kakak atau adik perempuan Anda sendiri???
(Kesui, 22 Februari 2007)
halow….saya sangat suka dengan kisah yang di bahas di atas. ini dapat menjadi suatu inspirasi bagi saya pribadi yang nantinya ingin menganbdi d daerah terpencil di mana tidak semua yang kita inginkan untuk di gunakan dalam pertolongan dapat tersedia di tempat tersebut.