Hari kedua bertugas di Kesui, pasien sedikit berkurang. Ombak pagi musim timur bertambah besar. Tetap saja pasien patuh mengantri. Pukul 11.30 datang serombongan pemuda tergopoh-gopoh, mereka penduduk kampung sumelang hendak meminta tolong di puskesmas. Ada pasien hendak melahirkan di sana. Sudah dua hari kesakitan dipimpin mengejan, bayi belum dilahirkan juga.
Ini adalah sekelumit permasalahan kesahatan di kesui. Keterbatasan tenaga kesehatan yang ada ditambah dengan kesilitan geograafis menjadikan aksesbilitas masyarakat di pelayanan kesehatan kurang. Tidak ad bidan di sini lho. Adanya Cuma 3 mantri laki-laki yang akan menjadi bidan saat mama biyang kesulitan menolong persalinan. Sedang mama biyangnya adalah dukun abayi tradisional yang kkurang terlatih (kalo tidak mau disebut tidak terlatih). Nah ini nih yang sering menjadikan akar permasalahan di proses persalinan.
Segera kita siapkan bidan kit, infuse set dan obat-obat injeksi. Kita berangkat. 1,5 jam memotong pulau Kesui. Mendaki bukit terjal Megan. Menyusuri aliran sungai kecil di tengah hutan pala. Tak ada jalan lain lebih pintas dari ini.
Sesampai disana. Segera kita periksa. Diagnosa : partus lama dengan inertia uteri. Pasang infuse dan drip oxytosin. Keluarga kita lakukan edukasi, jangan menngejan sebelum kita pimpin. Pembukaan belum lengkap. Sudah dua hari dipaksa mengejan! Kesalahan siapa?
19.00, pembukaan lengkap. Pimpin mengejan. Inertia uteri! Drip kita percepat. His membaik. Pimpin lagi. Kepala bayi lahir. His hilang! Tenaga ibu lemah. Dengan tenaga sisa dan bantuan perasat Kristeller akhirnya bayi bias lahir. Apgar 0-0-0! Resusitasi gagal. Bayi meninggal! Inna lillahi wainna ilaihi roji’un.
(dokter kesui, 20 Juni 2006)