Ba’da maghrib di Tamheru. Setelah kucoba melafalkan ma’tsurat penjagaan di pojok masjid tua kampung ini, aku mulai merenung. Mencoba membaca fenomena yang terjadi di kampung ini. Masjid ini cukup besar gumamku, aku rasa bisa menampung semua penduduknya untuk shalat jama’ah tiap lima waktu. Tapi ternyata besarnya masjid tidak diimbangi semangat masyarakatnya untuk memakmurkannya. Pak imam masjid ini pernah mencceritakan padaku tentang sejarah masjidnya. Dan sore ini bayanganku menerawang ke lima belas tahun silam. Dulu sewaktu proyek masjid ini belum masuk di Tamheru, tokoh-tokoh masyarakatnya gethol sekali memperjuangkannya. “Ini hak kami, bagaimana kami akan beribadah dengan nyaman kalau masjid yang kita miliki tidak memadai.” Setelah proyek itu masuk, masyarakat berbondong-bondong ikut membantu pembangunannya. Lelaki-lelaki kuat kampung ini bahu-membahu menyiapkan semua material pembangunan. Ada yang mengangkut pasir dari pantai yang jaraknya seratusan meter di samping lokasi masjid. Ada yang memotong kayu-kayu besar di gunung kemudian mengergajinya. Anak-anak ikut mangangkat batu-batu karang untuk membuat ponadasi masjidnya. Sedangkan ibu-ibu dan remaja putrinya juga tidak mau ketinggalan. Mereka memasakkan rangsum buat pekerja. Menuangkan air teh dan kopi. Lalu ubi rebus dan pisang goreng menyusul di setiap jeda istirahat para pekerja hebat itu. Masya Allah, benar-benar mengagumkan semangat mereka untuk segera memiliki masjid yang telah lama dirindukan. Alhamdulillah tak sampai satu bulan kampung ini telah memiliki sebuah masjid yang cukup megah. Masjid cantik dan bersih di tengah kampung yang damai. Subhanallah, fabiayyi alaa’i robbikumaa tukadzibaan!1 Maka adzan selalu mengumandang di kampung ini. Berbondong-bondong pendudukanya memasuki masjid ini. Menggelar sajadah, mendirikan shalat berjama’ah, berdzikir bersama setelahnya kemudian diakhiri dengan bersalam-salaman saat mereka selesai untuk kembali ke rumah masing-masing. Sorenya anak-anak kecil kampung ini berangkat mengaji di sini. Duduk rapi melingkari bapak nyira, melafalkan ayat-ayat suci bergantian. Senandung shalawat kerap menghiasi pengajian itu. Bapak Nyira 2 yang sabar,…anak-anak yang sholeh,….siapa yang tak trenyuh melihat pemandangan khusyuk ini.
Ah, tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku. Astaghfirullah bisikku. Bayang-bayang keramaian masjid ini pun hilang segera. Sayang, mengapa ini hanya lamunanku. Mengapa keramaian itu tak berulang kembali sekarang. Adakah yang salah dengan masjid tua ini. Apakah masyarakat telah bosan dengan cat dindingnya yang tak lagi putih bersih. Sekarang dinding masjid penuh lobang, warna catnya telah memudar, coklat kehijau-hijauan. Ada lumut yang tumbuh liar di pojok-pojoknya. Inikah yang membuat mereka enggan mendatangi masjidnya? Apa masyarkat juga telah bosan dengan desain bangunannya? Desain yang sangat sederhan memang, kalah jauh dengan bangunan-bangunan bos-bos cina di kampung ini yang bergaya eropa. Aku terus mencoba menguak sebab-sebab sepinya masjid ini,…. Aha, tukasku. Aku teringat dengan tifa butut yang mengantung di pojok beranda masjid. Bukankah setiap akan mengumandangkan adzan, pak Modzin selalu memulainya dengan memukul tifa itu? Iya, suaranya yang tak nyaring lagi, blep-blep-blep thek-thek-thek blep! Alunan musik aneh yang sangat sumabang. Oh, pantesan anak-anak muda kampung ini tak mau ke masjid, init ho penyebabnya. Panggialan sholatnya yang kalah jauh dengan alunan suara emasnya trio macan, Broery pesolima, ungu, ada band dan musik-musik demam goyang3 lainnya. Bukankah setiap listrik mulai menyala saat jam enam sore, radio-radio dan tip recorder di kampung ini seakan saling berlomba. Jedag-jedug-jadag nada-nada musik dangdut bercampur dengan pop ambon dan bugisnya. Coba bandingkan dengan bunyi tifanya pak Modzin yang Cuma blep-blep-blep. Pasti kalahlah!
Ah, kasihan masjid ini. Habis manis sepah dibuang. Sekarang tidak lagi memiliki penggemar -penggemar sebanyak jaman dulu. Padahal kalau ada pesta melantai 4 di kampung ini pastilah seluruh pemuda-pemudinya tumpah ruah. Bergoyang dangdut, cha-cha, ngebor, gergaji dan lainnya. Pernah aku diundang pesta juga, waktu itu aku tak mau joged tetapi tetap saja ditarik-tarik tuan rumah. Duh malunya, wajahku memerah seketika. Lain dengan mereka, asyik masyuk bergoyang ria. Bergoyang sampai nanti subuh tiba bahkan ada yang sampai minyak solar genset listriknya habis. Tancap terus Bung!
Sekarang aku cuma melihat pak imam yang sudah renta setia mendatangai masjid yang telah sunyi. Jalannya yang tak lagi tegap karena hernia yang membengkak di pangkal pahanya. Berjalan tertatih-tatih tak ada pamor lagi. Paling Cuma pak Modzin dan istrinya yang setia menemaninya di masjid itu. ” Ah, biar saja mereka, toh surga itu untuk yang mau dekat saja dengan masjid”, jawabnya enteng seolah tak ada beban dibenaknya untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Wadhuh,…apa iya Antua 5 telah lupa dengan hafalan surat Al ‘Asyr-nya? Seingatku dari nasihan ustadz Hadi, guru ngaji sewaktu SMA-ku dulu. Keimanan kita belum sempurna ketika belum sling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. Tidak cukup dengan kesalehan pribadi, tetapi bagaimana menularkan kesalehan itu ke segenap masyarakatnya. Toh, surga bukan kapling pribadi kan? Oh, pantas saja anak-anak mereka sendiri pun tetap saja setia melototi sinetron episode cinta murahan di televisi digitec 30 inchi tetangganya!
Fenomena yang ganjil tapi sudah membiasa di masyarakat. Inikah yang dinamakan tanda-tanda kiamat sudah dekat. Aku tak tahu pasti yang jelas kebaikan-kebaikan sekarang sulit kita temukan di masyarakat. Sedangkan kejahatan, kebebasan tiada batas dan ketidakjujuran tumbuh subur di masyarakat. Ah, aku bertambah pusing memikirkannya. Sering aku keliling kampung ini untuk mencari seseorang yang bisa nyambung dengan pikiranku. Aku butuh teman. Tempat berbagi masalah, berpikir bareng dan mencari solusi yang bisa diterapkan di sini. Bagai nabi Musa yang membutuhkan nabi Harun untuk membantu perjuangannya. Aku bukan nabi yang memiliki mukjizat. Seorang nabi saja membutuhkan teman berbagi apalagi aku! Aku pun bukan seorang ustadz. Aku seorang dokter muda PTT yang bertugas di sini. Tapi, bukankah seorang dokter memiliki kemampuan untuk mendiagnosis penyakit dengan metode tertentu. Lalu bagaimana jika metode itu diterapkan untuk mendiagnosis penyakit masyarakat kemudian menerapinya? Betul, namun aku tetap membutuhkan teman itu untuk bersama-sama saling menguatkan. Apalagi pemikiran masyarakat kampong ini sangat kolot dan sulit berubah.
Satu bulan berlalu, akhiranya aku dapatkan seseorang yang aku cari. Lelaki setengah baya yang tinggal di pojok kampong. Sudah sepuluh tahun dia menetap di sini, tetapi baru kali aku baru bertemu dengannya. Rupanya musim panen ikan sebulan ini dia manfaatkan sebaik-baiknya menjaring ikan momar dan memancing ikan cakalang ekor kuning. Oh pantesan aku tak pernah menemuinya di masjid saat sholat maghrib dan isya.
Subhanallah, luar biasa kepribadiannya. Lelaki yang sederhana, ramah dan murah hati. Pertama kali aku lewat depan rumahnya, dialah yang lebih dulu ucapkan salam padaku. Berlari kecil dengan senyum hangat menjemputku. “Inikah mas Dokter itu”, sapanya ramah. “Mari mampir di gubug beta 6.” Lalu aku masuk di ruang tamunya yang sangat sederhana. Hanya berukuran 2 x 2 meter. Tak ada perabotan apapun di dalmnya, hanya hamparan tikar tua menutupi tiga perempat ruangnya. “Beta tahu dari orang-orang kampong tentang mas Dokter yang baru tugas di pulau ini. Katanya perawakannya kecil, wajahnya cahaya, murah senyum dan giginya itu lho putih bersih. Mirip senyum pepsoden kata masyarakat kampung ini, Ha ha”, tukasnya menjelaskan padaku. “Makanya tadi beta langsung panggil mas Dokter”, susulnya. Aku hanya tersenyum. Lelaki yang hangat batinku. Apalagi saat dia memanggil istrinya dengan sapaan ‘sayang’ untuk segera buatkan minuman untuk kami. Lelaki yang romantis batinku lagi. Sesaat kamudian seorang perempuan berkerudung rapi menghidangkan secangkir teh dan sepiring kore untuk kami. “silahkan Mas, dicicipi teh dan korenya. Kebetulan tadi kami baru menumbuk sagu dan kenari untuk buat kue ini”, katanya renyah.
Kami pun melanjutkan dengan diskusi yang gayeng. Tentang keluarga, kesehatan dan masalah-masalah di kampung ini. Memang, lelaki ini yang aku cari. Wawasannya cukup luas, terbuka dan yang terpenting adalah memiliki sense ‘agent of chanc’ di masyarakat.dia ternyata seorang guru bantu di SD dan SMP LKMD kampung ini. ”Bagamana kalo katong mulai membangunkan masyarakat yang sedang tidur ini?”,tanyaku. “Beta sepakat, tapi bukanya beta menyombongkan diri. Sudah sepulu tahun beta berusaha berdakwah di desa ini namun hasilnya sama saja. Masyarakat lebih mencintai dunia daripada untuk akhiratnya. Beta hamper putus asa.”
“Pak Guru mungkin kita butuh metode yang baru. Beta lihat fungsi masjid di sini belum optimal. Masyarakat semakin hari bertambah asing dengan masjidnya. Padahal orang yang beriman dengan masjidnya ibarat ikan dengan kolamnya. Kalau katong baca shiroh perjuangan nabi maka basis pertama yang dibangun beliau adalah masjid. Bukankah di Qur’an Allah telah tegaskan bahwa hanya orang-orang berimanlah yang memakmurkan masjidnya!”, sambungku.
“Iya Pak Dok, beta sudah berusaha mengajak mereka ke masjid. Tetapi mereka tetap saja tak pernah berubah!”
Lalu aku menceritakan sebuah kisah tentang keberhasilan dakwah melalui masjid di lingkungan yang masyarakatnya sangat asing dengan nilai-nilai agama. Satu kisah dari Semarang tempat saya dulu menimba ilmu di fakultas kedokteran. Seorang habib di sana pernah bercerita kepada saya tentang pengalamannya dalam berdakwah kepada masyarakat. Habib tersebut tinggal di perkampungan dekat pelabuhan. Sebuah perkampungan yang kumuh, crowded dan sangat terkenal dengan gali-galinya sehingga tingkat kriminalitasnya menjadi sangat tinggi. Perjudian, minum-minuman keras dan pelacuran menjadi hal yang biasa di kampong itu. Lalu datanglah seorang habib yang telah tua untuk tinggal di tempat tersebut.
Mulailah proyek dakwahnya dirancang. Setelah melihat sendiri kebrobrokan di kampungnya habib itu menyimpulkan bahwa masyarakat sedang sakit hatinya. Hatinya telah mengeras sehingga sulit tersentuh dengan nilai-nilai kebenaran. Setelah mengetahui diagnosisnya lalu yang terpenting adalah mencari solusinya. Kira-kira langkah apa yang tepat untuk menerapi masyarakat yang sudah rusak begini?
Teringatlah habib itu dengan satu ayat Qur’an yang memberikan solusi untuk metode dakwahnya.
“Dan kami turunkan Al Qur’an (sesuatu) yang menjadi obat dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (QS. Al Isra’ 82)
Tapi hati masyarakat telah sakit kronis dan sekarang telah mengeras. Masih bisakah masyarakat ini bisa di ajak kembali menuju jalan yang lurus. Bukankah dakwah tidak pernah mengenal putus asa. Batu saja yang begitu kerasnya bisa berlubang karena tetesan air yang terus-menerus. Apalagi hati manusia yang memiliki dua bakat sekaligus, bakat menjadi takwa ataupun bakat menjadi durhaka. Kalau memang mereka setiap harinya hanya mendengar perkataan-perkataan yang buruk pastilah perbuatannya pun semakin buruk. Kalau setiap hari mereka mendengar hal-hal yang baik, lama-lama pasti hati akan melembut juga. Dan Al Qur’an telah menginformasikannya tentang tabiat jiwa manusia tentang hal ini. ”Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, Karena takut kepada Allah. dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Baqoroh 74)
Mulailah proyek dakwah sang habib berjalan. Masjid di tengah kampung mulai dia bersihkan bersama anak-anak kampung yang diajaknya. Di pasanglah sebuah sound sistem tuanya di masjid tersebut. Dan di setiap waktu menjelang sholat 5 waktu diputarlah kaset murottal dan tarhimnya itu. Masya Allah, sebuah metode yang sederhana namun tetap cerdas dan mengena.
Awalnya orang-orang memang merasa terganggu (biasa syaithon selalu menjauhkan orang dari hidayah), namun lambat laun alunan syahdu tilawah qur’an dan lantunan merdu sholawat telah menjadi kerinduan tersendiri di hati masyarakat.
Satu tahun telah berlalu. Mungkin orang-orang akan terheran-heran melihat situasi kampung itu. Di manakah warung remang-remang yang dulu ramai tempat orang-orang berjudi, minum-minuman keras dan main perempuan nakal itu? Dan sekarang masjid itu telah ramai dengan jama’ahnya di setiap waktu sholatnya. Ada pengajian rutin untuk masyarakat dan anak-anaknya. Kemudian gali-gali itu juga sudah tidak memalak lagi, meski bekas tato-tato masih menempel di kulitnya. Kini mereka telah menjadi karyawan habib tua itu di perusahaan meubel dan bengkel motornya. Subhanallah, masyarakat yang telah disinari hidayah. Mudah-mudahan barokah selalu menyertainya,….
”Beta tertarik dengan kisah tersebut Pak Dok. Subhanallah, mudah-mudahan bisa katong terapkan di sini.”
“Iya Pak Guru. Beta kebetulan ada sedikit dana untuk membeli sound sistem sederhana untuk masjid katong ini.”
Sebulan kemudian lantunan merdu qur’an nan syahdu telah menjadi jadwal khusus di masjid kampong ini. Mudah-mudahan hati masyarakat bisa menjadi lembut dan rindu dengan kebenaran. Sekeras apapun hati mereka. Lha wong gunung saja bisa hancur berkeping-keping saat mendengarkan ayat Al Qur’an apalagi seonggok hati manusia yang tipis itu,….
(Kesui, 25 Februari 2007)
Great Job Bro, Innalloha ma’anaa…
Very good..
Selamat Berjuang kawan..
Semoga di lain waktu bisa bersua kembali, setelah hampir 10 tahun..
menyentuh sekali…
inilah perjuangan yang sesungguhnya!
keluhuran budi dan keikhlasan hati yang dimiliki bangsa kita mesti dilestarikan, jangan sampai tergerus oleh budaya “tamu”. semua itu bisa terwujud, bila kita dapat menanamkan filosofi asasi dari budaya kita kepada generasi bangsa ini.
salam kenal…